Ada Sisi Positif, Tapi Penurunan Indeks Tendensi Bisnis Tetap Disorot

Project Consultant ADB Institute Eric Alexander Sugandi menyoroti penurunan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) triwulan I/2019 yang menurun dibandingkan dengan triwulan IV/2018.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 06 Mei 2019  |  19:19 WIB
Ada Sisi Positif, Tapi Penurunan Indeks Tendensi Bisnis Tetap Disorot
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kiri) memberikan paparan dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (6/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Project Consultant Asia Development Bank (ADB) Institute Eric Alexander Sugandi menyoroti penurunan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) triwulan I/2019 yang menurun dibandingkan dengan triwulan IV/2018.

Dia mengatakan hal itu merespons pernyataan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa ITB triwulan I/2019 sebesar 102,10 menunjukkan kondisi bisnis secara umum terus tumbuh, meski dengan optimisme pelaku bisnis yang lebih rendah daripada ITB triwulan IV/2018 sebesar 104,71.

Kinerja ITB pada triwulan 1/2019, kata Eric, juga masih menunjukkan adanya sektor yang cukup pesimistis di antaranya pertambangan dan penggalian (walau harga komoditas energi naik dan ekspor energi sebenarnya naik), konstruksi, sampah-air-limbah, pendidikan, jasa pemerintahan. "Tapi tidak jauh dari ambang batas 100," ungkapnya.

Eric melihat bahwa kondisi ini terjadi karena investor mungkin masih wait and see dan tidak terlalu agresif investasi, misalnya di konstruksi dan pertambangan penggalian karena mempertimbangkan kemungkinan perubahan kebijakan.

"Tapi pilpres juga meningkatkan demand oleh parpol untuk mamin, transportasi, komunikasi. Sektor-sektor ini di teritori optimistik," jelasnya.

Adapun untuk prakiraan triwulan II/2019 kelihatannya responden mempertimbangkan faktor peningkatan seasonal demand dari Ramadan sehingga mereka lebih optimistik.

Sebelumnya Kepala BPS Suhariyanto mengatakan dengan ITB pada triwulan 1 tersebut, dia cukup yakin kondisi bisnis pada triwulan II-2019 diperkirakan meningkat, tecermin dari angka ITB 106,44.

“Peningkatan kondisi bisnis diperkirakan terjadi pada seluruh kategori lapangan usaha kecuali kategori lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian,” kata Suhariyanto.

Dia menjelaskan peningkatan kondisi bisnis pada triwulan I-2019 disebabkan oleh meningkatnya seluruh komponen pembentuk indeks, yaitu rata-rata jumlah jam kerja (nilai indeks sebesar 103,25), penggunaan kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 101,97), dan komponen pendapatan usaha (nilai indeks 101,07).

Selain itu, jika dilihat dari aspek pendukunngnya, perbaikan indeks tersebut dipicu oleh meningkatnya kondisi bisnis pada triwulan I/2019 terjadi pada 10 kategori lapangan usaha. Kondisi bisnis yang membaik dan optimisme pelaku bisnis tertinggi terjadi pada kategori Jasa Keuangan dan Asuransi, dengan nilai ITB sebesar 110,78.

Namun demikian, untuk kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian dengan nilai ITB sebesar 92,04 nilainya cenderung turun dan merupakan yang terendah dibandingkan sejumlah sektor lainnya.

Pengaruh Tekanan Global

Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira berpendapat optimisme menguat karena tekanan global sedikit mereda. Selain itu, dari dalam negeri inflasi masih terpantau stabil karena pemilu berjalan dengan damai.

Adapun ditahannya suku bunga acuan BI juga mengakhiri tren kenaikan bunga sehingga konsumen dapat lebih meningkatkan pengeluaran belanjanya. Rupiah yang terpantau stabil berperan penting menjaga biaya produksi tidak stinggi tahun lalu.

"Optimisme pelaku usaha harapanya akan tetap terjaga apalagi jelang Ramadhan dan lebaran dimana konsumsi rumah tangga biasanya naik signifikan. Prospeknya bakal terus menguat," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
badan pusat statistik, pelaku usaha

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top