Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Garuda Indonesia (GIAA) Perbesar Pendapatan Bisnis Kargo

Garuda akan menjadikan bisnis kargo udara sebagai salah satu pendorong pendapatan usaha maskapai dari sumber non penumpang dalam beberapa tahun mendatang.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 29 April 2019  |  07:06 WIB
Sebuah pesawat udara terbang melintas di atas jalan raya saat bersiap mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Senin (14/1/2019). - ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Sebuah pesawat udara terbang melintas di atas jalan raya saat bersiap mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Senin (14/1/2019). - ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Bisnis.com, JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. akan menjadikan bisnis kargo udara sebagai salah satu pendorong pendapatan usaha maskapai dari sumber non penumpang dalam beberapa tahun mendatang.

Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Fuad Rizal mengatakan akan berupaya untuk meningkatkan performa dan kinerja, dengan cara mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan non penumpang. Adapun, hingga akhir 2018, Garuda Grup berhasil membukukan laba bersih sebesar US$5,02 juta.

“Sebagaimana diketahui, potensi kargo udara di Indonesia sangat besar. Apalagi, bisnis e-commerce saat ini berkembang pesat, sehingga akan memberi dampak positif bagi perusahaan,” kata Fuad, Minggu (28/4/2019).

Dia mengklaim saat ini Garuda menjadi pemain utama dalam bisnis kargo nasional. Pihaknya akan terus berupaya meningkatkan bisnis kargo ini sehingga bisa memberikan dampak positif bagi perusahaan.

Selama ini, lanjutnya, pendapatan dari non penumpang masih di bawah dari pendapatan dari penjualan tiket. Di waktu-waktu yang akan datang, diharapkan Garuda mampu membesarkan persentase pendapatan dari kargo.

Pada 2019, emiten berkode GIAA ini menargetkan laba bersih senilai Rp1 triliun. Target tersebut jauh di atas laba bersih yang ditorehkan pada 2018 yakni US$809,846.

Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akutan Publik Independen Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan rekan, GIAA mampu untung US$809,846 pada 2018 dari kerugian US$216,58 juta pada 2017. Padahal, hingga September 2018, perseroan masih mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$114,08 juta. 

Laba dengan kontribusi terbesar berasal atas pendapatan lain-lain perseroan yang berbanding jauh pada tahun sebelumnya yakni US$19,79 juta. Pendapatan lain-lain yang dicatatkan perseroan pada 2018 merupakan transaksi senilai US$239.94 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garuda indonesia
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top