Bisnis.com, JAKARTA – PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk. (CAKK) menyatakan produksi dan penjualan perseroan tumbuh lantaran keluarnya peraturan baru yang membuat konsumen beralih dari produk impor.
Beleid yang dimaksud ialah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/PMK.010/2018 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) Terhadap Impor Barang Ubin Keramik.
Pada akhir kuartal III/2018, pemerintah menaikkan bea masuk keramik sekitar 20%--22%. Alhasil, konsumen beralih menggunakan produk lokal karena produk impor dari Cina dan India berkurang.
Direktur Utama CAKK Johan Silitonga mengatakan PMK tersebut menjadi safeguard untuk melindungi konsumsi keramik lokal yang memiliki harga pokok penjualan (HPP) yang tinggi. Pasalnya, industri keramik nasional masih dibebankan biaya gas yang tinggi.
"Pemerintah [seharusnya] bisa menarik investor asing khususnya yang bermain di gas dan minyak untuk meng-explore sumber-sumber gas baru. [Industri] yang paling besar menggunakan gas adalah semen, baja, pupuk, dan keramik," katanya, Selasa (23/4/2019).
Johan menuturkan dengan pemberlakuan safeguard tersebut, produsen keramik lokal dapat bernafas lega hingga masa PMK tersebut usai pada 2021.
Johan berharap pemerintah dapat menyesuaikan harga gas pada tahun ini agar keramik di dalam negeri dapat bersaing di pasar global. Johan memberi contoh Cina mengucurkan investasi pada teknologi yang dapat mengkonversi batu bara menjadi gas.
Dia menuturkan utilitas pabrik CAKK telah mencapai 93%. Utilisasi yang sudah hampir penuh, membuat perseroan akan menambah satu lini produksi dengan kapasitas 20.000 m2 per hari atau sekitar 3 juta m2 per tahun.
Perseroan akan mengucurkan dana senilai Rp150 miliar untuk pendirian lini produksi ini. Johan berharap kondisi politik Tanah Air untuk stabil pada tahun ini untuk menjaga kepastian pasar.