Thailand Ambisius Jadi Hub Asean, IPC : Hey, Kita Kompetisi Saja!

Thailand berkali-kali mengajukan diri sebagai hub ekspor Asia Tenggara dalam beberapa forum Asean.
Sri Mas Sari | 23 April 2019 08:42 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pelindo II (Persero) atau IPC siap berkompetisi dengan Thailand yang berambisi menjadi alternatif hub ekspor Asean di samping Singapura. 


Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya mengatakan, Pelabuhan Tanjung Priok siap menjadi hub ekspor produk Indonesia untuk langsung dikapalkan ke negara tujuan sehingga tidak perlu lagi transit di Singapura.


"Berkompetisi saja [dengan Thailand]. Priok sudah menyiapkan infrastruktur dan suprastruktur, melakukan cargo consolidation, menyiapkan digital system, memperbaiki daya saing melalui service dan cost yang lebih kompetitif," katanya saat dihubungi, Senin (22/4/2019).


Thailand berkali-kali mengajukan diri sebagai hub ekspor Asia Tenggara dalam beberapa forum Asean, terutama untuk kargo tujuan China, Korea Selatan, dan Jepang. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) merespons positif keinginan itu dengan alasan tarif transshipment di Negeri Gajah Putih lebih murah dari Singapura (Bisnis, 22/4).


Di sisi lain, Indonesia ingin pula menjadi hub internasional. Pelindo II misalnya menyiapkan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transshipment kargo ekspor dari berbagai daerah di Indonesia. Pelindo I pun membangun Kuala Tanjung yang digadang-gadang sebagai hub internasional karena posisinya yang strategis di Selat Malaka.


IPC misalnya, sedang menyiapkan eks Terminal 2 Jakarta International Container Terminal (JICT) menjadi terminal konsolidasi kargo bermuatan ekspor dari seluruh Nusantara.

Setelah transit di eks Terminal 2 JICT, kontainer dipindahkan ke terminal internasional, seperti JICT, TPK Koja, New Priok Container Terminal 1 (NPCT 1), atau Mustika Alam Lestari (MAL). Agar tarif transshipment kompetitif, IPC sedang menyiapkan tarif bundling pelayanan kepelabuhanan yang a.l. handling, trucking untuk shifting, dan kepabeanan.


Beberapa dermaga didesain dengan kedalaman dermaga 16 meter di bawah permukaan air (LWS) agar dapat disandari kapal besar berkapasitas di atas 10.000 TEUs. Terminal pun dilengkapi dengan crane super post panamax berkapasitas angkat ganda (twin lift) dengan kecepatan bongkar muat kontainer di atas 25 boks per crane per jam (BCH). 


Priok sejauh ini juga melayani kapal dengan rute pelayaran langsung (direct call) ke beberapa kawasan, yakni Tanjung Priok-Amerika Serikat, Tanjung Priok-Intra Asia, Tanjung Priok-Eropa, dan Tanjung Priok-Australia.


IPC juga menerapkan digitalisasi untuk mempercepat layanan, seperti marine operating system (MOS) untuk booking jasa pandu dan tunda kapal via aplikasi.

Di sisi terminal, IPC menerapkan aplikasi terminal operating system (TOS) untuk mengatur jadwal rencana loading/unloading dan yard transfer, mengolah informasi pengiriman kontainer menuju terminal, dan memberikan informasi kepada perusahaan pelayaran dan trucking mengenai penempatan kontainer. Aplikasi ini memungkinkan pemilik barang (shipper) melacak posisi barang.


Elvyn menuturkan, selain menjadi hub ekspor produk nusantara, BUMN jasa kepelabuhanan itu sedang mengkaji kemungkinan menjadi pelabuhan transshipment bagi kargo tujuan Australia dan kawasan Pasifik. 


Selama ini, dari negara asal, kargo ke kedua kawasan dikirimkan langsung atau alih muat di Singapura. "Priok sedang review untuk transshipment yang dari Eropa, AS, atau China, melalui Jakarta, sebelum ke Pasifik atau Australia," katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, tanjung priok, ipc

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup