HOLDING PENERBANGAN : Ini Alasan Industri Aviasi RI Diklaim Bakal Kian Kuat

PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) mengklaim pembentukan holding BUMN sarana dan prasarana penerbangan akan memperkuat industri aviasi Indonesia hingga di kancah global serta mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 22 April 2019  |  07:33 WIB
HOLDING PENERBANGAN : Ini Alasan Industri Aviasi RI Diklaim Bakal Kian Kuat
Teknisi beraktivitas di dekat pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA— PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) mengklaim pembentukan holding BUMN sarana dan prasarana penerbangan akan memperkuat industri aviasi Indonesia hingga di kancah global serta mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Direktur Utama Angkasa Pura I (AP I) Faik Fahmi menjelaskan bahwa pembentukan holding bertujuan memperkuat industri aviasi di Indonesia. Apalagi, sektor tersebut menurutnya memiliki peran signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Indonesia, sambungnya, merupakan negara kepulauan yang membutuhkan konektivitas, biaya logistik lebih yang lebih rendah, serta dukungan untuk industri pariwisata. Oleh karena itu, perseroan pelat merah yang terkait dengan industri aviasi membentuk holding.

“Tujuannya untuk memperkuat posisi industri aviasi di Indonesia di samping memperkuat di skala global,” jelasnya kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Faik mengatakan pihaknya sudah mulai beberapa pendakatan untuk bisa mengelola bandar udara (bandara) di luar negeri. Pihaknya menyebut terdapat beberapa peluang yang sudah didiskusikan di antaranya di Jeddah, Kuwait, Kolombo, Maldives, dan Timor Leste. 

“Salah satu tujuan holding seperti itu, lebih berkontribusi secara global," imbuhnya.

Dia menambahkan pembentukan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang sarana dan prasarana penerbangan ditargetkan terbentuk dalam dua bulan ke depan. Rencana saat ini kelompok usaha itu akan melibatkan Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Pelita Air Services, dan PT Survai Udara Penas (Persero) sebagai induk.

Sementara itu, Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menjelaskan bahwa akan terjadi sinergi BUMN secara komprehensif dalam holding. Artinya, akan ada keterhubungan value chain dan supply chain antara operator bandara, operator angkutan udara, dan fasilitas penunjang lainnya.

“Sehingga seharusnya yang kami dapat [tumbuh] lebih besar saat holding terealisasi,” paparnya.

Sebagai gambaran, saat ini pengembangan kapasitas bandara menurutnya masih memiliki backlog yang besar. Skala yang masih dimiliki dengan konsep stand alone masih terbilang kecil.

“AP I sendiri, Garuda Indonesia sendiri, benchmark sudah ada bagaimana Changi Airport Singapore dan Singapore Airlines melakukan sinergi, Dubai International Airport melakukan sinergi dengan Emirates,” jelasnya.

Awal, sapaan akrabnya, meyakini pembentukan holding akan berdampak positif termasuk untuk mengantisipasi persaingan global. Kondisi saat ini membuat perseroan harus mengantisipasi disrupsi dan menyiapkan sumber daya manuasi agar tumbuh lebih maksimal.

Dari sisi potensi, lanjut dia, angka-angka nilai aset yang dimiliki oleh anggota holding nantinya dapat dileverage lebih maksimal. Tujuannya, untuk mencapai pertumbuhan yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga akseleratif.

“Kalau holding ini [kekuatan] bisa digabung. Bagaimana mendapat dukungan finansial, bagaimana maskapai menjamin lalu lintas,” imbuhnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo mengatakan pembentukan holding BUMN penerbangan ditargetkan rampung pada semester I/2019. Pihaknya membeberkan terdapat beberapa tujuan pembentukan holding tersebut. 

Salah satunya untuk memuluskan jalur logistik dan memberikan pelayanan terbaik kepada penumpang di bandar udara (bandara) milik Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II.  Dengan langkah tersebut, sambungnya, BUMN dapat terus maju hingga pasar global. 

Menurutnya, perseroan pelat merah dalam holding BUMN penerbangan dapat menjadi operator di negara Asia.“Kami justru memperkuat basis internal sekaligus bisa ikut tender [operator bandara] di beberapa negara.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, holding bumn

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup