PMI Zona Euro Melemah pada April 2019

Indeks manajer pembelian (PMI) zona euro yang dirilis IHS Markit menunjukkan perlambatan laju pertumbuhan selama dua bulan berturut-turut pada April 2019.
Nirmala Aninda | 19 April 2019 15:44 WIB
Euro. - afr.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Indeks manajer pembelian (PMI) zona euro yang dirilis IHS Markit menunjukkan perlambatan laju pertumbuhan selama dua bulan berturut-turut pada April 2019.

Hal ini mengindikaskan bahwa ekonomi akan tetap berada pada kondisi terburuk sejak 2014.

Kegiatan manufaktur dicatat mengalami kontraksi lanjutan sementara itu pertumbuhan pada sektor jasa mulai mengalami pelemahan.

Dianggap sebagai angka yang cukup baik, flash PMI IHS Markit terhadap zona euro mencatatkan penurunan menjadi 51,3 pada April dari posisi 51,6% pada Maret, atau jauh dari prediksi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan PMI akan naik mencapai 51,8.

"Prospek zona euro cukup sulit, pada saat yang sama Bank Sentral Eropa tetap condong ke arah langkah pelonggaran lebih lanjut," ujar Jan von Gerich dari Nordea e-Markets, seperti dikutip melalui Reuters, Jumat (19/4).

Hampir seluruh bisnis di zona euro mengawali kuartal kedua dengan pelemahan permintaan meskipun kenaikan harga terjadi tidak begitu signifikan.

Pertumbuhan di Jerman juga menjadi salah satu penyebab pelemahan indikator PMI Eropa yang diperkirakan akan berlanjut setidaknya untuk beberapa bulan ke depan.

"Kekecewaan terbesar adalah PMI manufaktur Jerman bergerak tidak lebih tinggi dari bulan lalu, hanya sebesar 44,5 yang artinya akan ada resesi industri yang berkelanjutan," kata Andrew Kenningham dari Capital Economics.

Laporan dari Jerman tersebut menyebabkan nilai tukar euro jatuh terhadap dolar Amerika Serikat.

Aktivitas manufaktur di Perancis, ekonomi terbesar kedua di blok ekonomi itu, mulai stabil pada bulan ini setelah terkontraksi pada Maret. 

Pekan lalu, Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengindikasikan adanya peningkatan stimulus untuk ekonomi zona euro yang sedang kesulitan jika perlambatan pertumbuhan terus berlanjut.

IHS Markit, dalam laporannya menyampaikan, jika angka PMI dipertahankan, maka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal kedua akan kurang dari 0,2%, lebih rendah dari proyeksi 0,3% dalam jajak pendapat Reuters awal bulan ini,

Bisnis baru nyaris tidak mengalami peningkatan pada April, dimana sub-indeks hanya tumbuh menjadi 50,6 dari 50,5.

Penurunan PMI zona euro kali ini kembali dipicu oleh sektor manufaktur. 

Meskipun secara sektoral PMI manufaktur tumbuh menjadi 47,8 pada April dari 47,5 bulan sebelumnya, manufaktur Eropa berada di bawah titik impas (break-even mark) dan belum mampu melampaui perkiraan median pada kisaran 47,9.

Indeks yang mengukur volume output, untuk kemudian disertakan ke dalam data PMI komposit, naik menjadi 48,1 dari 47,2 pada bulan sebelumnya. Namun produktivitas ini digerakkan oleh pesanan lama agar pabrik tetap aktif.

Data backlog atau tumpukan produksi yang harus dikerjakan turun ke level terendah dalam enam tahun terakhir menjadi 44,4 dari 45,0.

Di sisi lain, PMI yang mencakup industri jasa di blok ekonomi Eropa ini tercatat mengalami penurunan di luar ekspektasi pasar menjadi 52,5 pada April dari 53,3 pada bulan sebelumnya.

Seperti sektor manufaktur yang kesulitan untuk menghasilkan produksi dari pesanan baru, sektor jasa juga beralih pada pemenuhan pesanan lama.

Realisasi ini mengindikasikan pertumbuhan sektor jasa akan tumbuh terbatas selama beberapa tahun mendatang serta optimisme terhadap bisnis ini mulai berkurang.

Pada April, indeks ekspektasi bisnis untuk sektor jasa turun menjadi 62,0 dari 62,3 pada bulan sebelumnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
zona euro

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup