Kemenperin : Manufaktur Tak Alami Deindustrialisasi

Kementerian Perindustrian menegaskan industri manufaktur dalam negeri tidak mengalami deindustrialisasi.
Annisa Sulistyo Rini | 15 April 2019 02:01 WIB
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2). - Bisnis.com/NH

Bisnis.com, JAKARTA--Kementerian Perindustrian menegaskan industri manufaktur dalam negeri tidak mengalami deindustrialisasi.

Haris Munandar, Sekretaris Jenderal Kemenperin, mengatakan kontribusi industri manufaktur Indonesia sebagai penopang perekonomian dinilai masih cukup besar. Hal ini terlihat melalui pertumbuhan sektor, peningkatan investasi, penambahan tenaga kerja dan penerimaan devisa dari ekspor.

“Gejala deindustrialisasi itu ketika kontribusi industri terhadap PDB sangat rendah, artinya menurun drastis. Tetapi sekarang kan masih cukup tinggi. Apalagi industrinya semakin tumbuh dan investasi terus jalan," katanya dalam keterangan resmi, Minggu (14/4/2019).

Kemenperin mencatat kontribusi industri manufaktur pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berada di angka 20%. Kondisi ini menjadikan Indonesia berada di peringkat ke-5 di antara negara G-20, setelah China dengan kontribusi manufaktur ke PDB sebesar 29,3%, Korea Selatan sebesar 27,6%, Jepang sebesar 21%, dan Jerman sebesar 20,7%.

Menurut Haris, rata-rata kontribusi sektor manufaktur dunia saat ini hanya sebesar 17% . Oleh karena itu, industri manufaktur menjadi sektor andalan dalam penerimaan negara. Hal ini pula yang menjadi perhatian pemerintah untuk semakin menggenjot hiliriasi industri.

Sejalan upaya tersebut, Kemenperin terus mendorong pendalaman struktur industri di dalam negeri melalaui peningkatan investasi, yang juga bertujuan untuk mensubstitusi produk impor. Investasi di sektor industri manufaktur pada 2014 senilai Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18 triliun pada 2018. Haris menilai hal ini mencerminkan iklim investasi di Indonesia terbilang kondusif.

Dari penanaman modal tersebut, membawa efek berantai bagi pertumbuhan sektor industri baik skala besar dan sedang maupun skala kecil. Pada periode 2014--2017, terjadi penambahan populasi industri besar dan sedang, dari 2014 sebanyak 25.094 unit usaha menjadi 30.992 unit usaha sehingga tumbuh 5.898 unit usaha.

Di sektor industri kecil, juga mengalami penambahan, dari 2014 sebanyak 3,52 juta unit usaha menjadi 4,49 juta unit usaha pada 2017. Artinya, tumbuh hingga 970.000 industri kecil selama empat tahun tersebut.

Dampak positif lainnya adalah terbukanya lapangan pekerjaan yang luas. Hingga saat ini, sektor industri telah menyerap tenaga kerja sebanyak 18,25 juta orang. Jumlah tersebut naik 17,4% dibandingkan pada 2015 yang berada di angka 15,54 juta orang.

“Selain itu, industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional hingga 73%,” imbuhnya.

Nilai ekspor industri pengolahan nonmigas diproyeksi menembus US$130,74 miliar pada 2018. Capaian ini meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar USD125,10 miliar.

Dengan adanya peta jalan Making Indonesia 4.0, menandakan kesiapan Indonesia dalam upaya pengembangan industri nasional agar lebih berdaya saing global di era digital.

“Aspirasi besarnya adalah menjadikan Indonesia masuk jajaran negara 10 besar dengan perekonomian terkuat di dunia pada 2030. Kami juga optimistis, Indonesia peringkat ke-4 pada 2045,” tegas Haris.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenperin, industri manufaktur

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top