Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HUBUNGAN BILATERAL RI-AS : Melihat Kemesraan 2 Kawan Lama di Morotai

Salah satu fokus kerja sama AS dan Indonesia di Morotai ialah perlindungan kawasan kelautan.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 11 April 2019  |  09:26 WIB
Ilustrasi - Wilayah Kabupaten Morotai di Maluku Utara - Istimewa
Ilustrasi - Wilayah Kabupaten Morotai di Maluku Utara - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, MOROTAI, Maluku Utara - Meskipun kekerabatan bilateral Republik Indonesia dan Amerika Serikat secara resmi sudah berumur 70 tahun, ternyata hubungan faktual keduanya sudah berusia 75 tahun atau sejak 1944.

Saat itu, Morotai menjadi lokasi penting bagi Panglima Perang Pasifik, Jenderal Douglas McArthur asal Amerika Serikat, untuk menjalankan strategi lompat kodok atau leap frog. Strategi tersebut menekankan kepada penguasaan pulau satu per satu, sehingga pasukan sekutu berhasil menguasai Filipina.

Morotai, yang kini menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Maluku Utara, kala itu memiliki landasan udara yang memiliki fungsi utama sebagai jalur logistik perang. Jalur logistik itu kemudian juga dimanfaatkan Pemerintah Indonesia untuk pembebasan Irian Barat dalam operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 1961.

“Dengan mengenang pertempuran perang pasifik, kita juga mengenang berakhirnya Perang Dunia II pada 1945,” tutur Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr., dalam kunjungannya ke Museum Perang Dunia (PD) II & Trikora di Morotai, pekan lalu.

Berakhirnya PD II pada 1945, sambungnya, menjadi momentum penting bagi sejumlah negara untuk memproklamasikan kemerdekaannya, termasuk Indonesia.

1 dari 7 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kelautan pulau morotai RI-AS
Sumber : Bisnis Indonesia
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top