Selain Bangun Kilang LNG Di Darat, Inpex Siapkan Fasilitas FSPO

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan Inpex Corporation juga akan menyiapkan fasilitas floating production, storage and offloading (FPSO) selain membangun kilang gas alam cair (LNG) di darat.
David Eka Issetiabudi | 08 April 2019 08:57 WIB

Bisnis.com, TAKENGON— Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan Inpex Corporation juga akan menyiapkan fasilitas floating production, storage and offloading (FPSO) selain membangun kilang gas alam cair (LNG) di darat.

Deputi Operasional SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan fasilitas FPSO akan digunakan untuk memisahkan gas alam, LNG dan kondensat. Nantinya, setelah dipisahkan, gas alam langsung dialirkan melalui pipa sepanjang 150 kilometer ke darat.

Gas tersebut nantinya akan diproses juga menjadi LNG, sehingga total produksi pertahun menjadi 9,5 juta ton per tahun. Sementara itu, untuk kondensat sendiri diproyeksi produksi harian mencapai 33.000 barel per hari.

“Kalau dulu kan konsepnya kilang LNG di tengah laut, tapi kan pemerintah sudah memutuskan di darat Karena melihat manfaat turunannya. Mereka tetap buat kilang LNG di darat, tetapi di laut ada FPSO,” tuturnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Pada Maret 2016, Presiden Joko Widodo memutuskan agar pembangunan kilang LNG dilakukan di darat (onshore). Alasan pemerintah adalah agar proyek Masela bisa menciptakan multiplier effect lebih besar bagi masyarakat Maluku.

Terkait rencana pembangunan pipa sepanjang 150 km tersebut, lanjut Fatar, pihaknya sedang melakukan optimalisasi perencanaan dengan Inpex, seperti bicara tentang teknologi instalasinya.

“Makanya kami optimalisasi, cara instalasinya seperti apa, lalu mereka akan pakai vessel yang lama sepenuhnya atau dibagi-bagi. Karena proyek ini kan masih menggunakan cost recovery,” tambahnya.

Fatar menambahkan perencanaan proyek Blok Masela harus memberikan manfaat bagi pendapatan negara. Di sisi lain, dia mengakui bahwa investor juga memelurkan keuntungan atas proyek strategis nasional ini.

Sebelumnya, pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela telah diputuskan sebagai salah satu dari 37 Prioritas dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti yang diatur dalam Perpres Nomor 58 Tahun 2017.

Adapun, dari Lapangan Abadi, tercatat potensi cadangan gas hingga 6,97 triliun kaki kubik (TCF) dan kapasitas kilang hingga 9,5 juta ton per tahun (MTPA).

“Mereka tidak rugi, hanya mempersiapkan bagaimana mengembalikan pinjaman karena investasi yang ditanam selama ini belum kembali dan harus membayar pinjaman. Bagi kami, intinya sama sama tidak dirugikan,” tambahnya.

Sebelumnya, Inpex Corporation terus melakukan diskusi intensif dan koordinasi dengan SKK Migas terkait pembahasan poin-poin proposal pengembangan (POD I) Lapangan Abadi.

Senior Specialist Media Relations Inpex Corporation Moch. Nunung Kurniawan mengatakan pihaknya sepakat pengembangan proyek harus mencapai titik efisiensi dan keekonomian yang berdaya saing.

“Mengenai detail soal teknis, biaya maupun insentif, saya nggak bisa berkomentar karena masih berdiskusi, berkonsultasi dengan pemerintah.Tapi intinya memang mesti tercapai proyek yang efisien dan keekonomiannya kompetitif,” tuturnya melalui pesan singkat kepada Bisnis.com, Selasa (26/3/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gas alam cair

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top