PERSPEKTIF TJAHYA WIDAYANTI : Ramadan dan Stabilitas Harga

Kementerian Perdagangan menginstruksikan ke pemerintah daerah untuk mengeksekusi lima strategi pengamanan jelang puasa dan Lebaran tahun ini.nn 
Tjahya Widayanti, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag
Tjahya Widayanti, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag - Bisnis.com 08 April 2019  |  12:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Dari tahun ke tahun, momentum Ramadan dan Idulfitri selalu membetot konsentrasi pemerintah, khususnya dalam hal strategi pengamanan stok dan harga bahan pokok penting. Tidak terkecuali pula dengan tahun ini.

Secara umum, kondisi pergerakan harga bahan pokok penting pada pekan-pekan menjelang puasa cukup terkendali. Pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan, pun telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga stok dan harga tetap aman hingga hari raya.

Dalam beberapa waktu ke depan, menghadapi Ramadan dan Idulfitri 2019, terdapat potensi terjadinya kenaikan permintaan bahan pangan yang dikhawatirkan berpengaruh terhadap kenaikan harga.

Berdasarkan data historis, tingkat inflasi kelompok bahan makanan mencapai titik tertinggi pada saat puasa-Lebaran dan Tahun Baru.

Oleh karena itu, dalam rangka menjaga ketersediaan dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok di masyarakat, pada periode tersebut perlu dilakukan upaya-upaya antisipasi berupa koordinasi yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah ataupun pelaku usaha barang kebutuhan pokok.

Pada periode puasa-Lebaran serta Natal-Tahun Baru beberapa tahun terakhir, harga pangan relatif terkendali atau stabil, yang tergambar dari tingkat inflasi kelompok bahan pangan yang cenderung turun sejak 2014—2018.

Bahkan, pada 2017 tingkat inflasi kelompok bahan makanan berada di bawah inflasi nasional.

Hal ini didukung oleh beberapa langkah Kemendag dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok, antara lain penguatan regulasi; penatalaksanaan; pemantauan dan pengawasan, serta upaya khusus.

Penatalaksanaan dilakukan melalui rapat koordinasi dengan pemerintah daerah, instansi terkait dan pelaku usaha dalam rangka antisipasi kecukupan stok/pasokan dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok di daerah-daerah.

Selain itu, Kemendag juga memfasilitasi BUMN dan pelaku usaha dalam penetapan harga eceran tertinggi (HET) untuk beberapa bahan pokok (gula, minyak goreng kemasan sederhana, dan daging beku).

Upaya lainnya adalah memberikan penugasan kepada Perum Badan Urusan Logistik (Persero) untuk melakukan operasi pasar (OP) melalui penambahan pasokan ke pasar-pasar pantauan dalam rangka stabilisasi harga.

Pemantauan dan pengawasan terkait stok/pasokan dan harga barang kebutuhan pokok dilakukan ke pasar rakyat dan ritel modern serta gudang Bulog dan distributor dengan menugaskan Eselon I Kemendag berkoordinasi dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota setempat serta Satgas Pangan di seluruh wilayah Indonesia.

Selain itu, Kementerian Perdagangan juga melakukan upaya khusus berupa penetrasi pasar ke pasar rakyat menjelang Lebaran dalam rangka mengawal kelancaran pasokan barang kebutuhan pokok.

Menghadapi puasa dan Lebaran 2019, Kementerian Perdagangan melanjutkan langkah kembali upaya yang telah dilakukan tersebut dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga barang kebutuhan pokok.

Pada 20 Maret 2019, telah dilaksanakan Rapat Koordinasi Nasional Barang Kebutuhan Pokok di Bandung dengan mengundang instansi terkait, pemerintah daerah dan pelaku usaha barang kebutuhan pokok.

Pertemuan tersebut akan dilanjutkan dengan Rapat Koordinasi dan pemantauan lapangan di 34 provinsi pada minggu II April sampai dengan Minggu pertama Mei 2019 dan penetrasi pasar di 82 kabupaten/kota pada 27 Mei sampai dengan 4 Juni 2019.

LIMA STRATEGI

Pada Rakornas 20 Maret 2019 di Bandung, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menginstruksikan ke pemerintah daerah untuk mengeksekusi lima strategi pengamanan jelang puasa dan Lebaran tahun ini.

Pertama, memantau perkembangan harga dan pasokan bapok di pasar secara intensif dalam rangka memonitor indikasi kelangkaan barang dan dapat melakukan langkah antisipasi dengan cepat.

Kedua, memetakan jalur/rantai distribusi bapok di wilayahnya dalam rangka menjaga kelancaran distribusi dan mengidentifikasi masalah apabila terjadi gejolak harga. Salah satunya adalah dengan mengawal kelancaran pemasukan bapok dari pelabuhan dalam rangka pemenuhan stok pelaku usaha.

Ketiga, mengidentifikasi jumlah stok bapok dan ketahanannya, khususnya yang ada di pelaku usaha distribusi bapok di wilayahnya masing-masing sebagai salah satu sumber pasokan di saat terjadi kenaikan permintaan, serta berkoordinasi dengan Satgas Pangan masing-masing daerah untuk mencegah aksi-aksi spekulasi.

Keempat, mengawal kelancaran distribusi beras medium Bulog dalam program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) di pasar-pasar rakyat pada wilayah masing-masing.

Kelima, membantu kelancaran pelaksanaan rakorda dan penetrasi pasar menjelang puasa dan Lebaran dalam rangka menegaskan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat, serta secara bersama-sama melakukan media briefing kecukupan stok dan pasokan bapok di pasar dalam rangka menjaga prikologis masyarakat agar tetap kondusif.

Upaya-upaya ini dilakukan dalam rangka menegaskan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat untuk menjaga kecukupan stok dan pasokan barang kebutuhan di pasar sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang, tanpa terbebani naiknya harga pangan atau kelangkaan barang.

Untuk persiapan sektor ritel modern, Kemendag memantau mereka dan mereka melaporkan telah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Mereka telah berkomitmen untuk menyediakan pasokan yang telah disesuaikan dengan perhitungan tambahan konsumsi masyarakat saat bulan puasa maupun Lebaran.

Dengan demikian, tidak akan ada alasan lagi bagi peritel modern yang mengaku mengalami kesulitan pasokan ketika memasuki bulan puasa dan Lebaran.

Sejauh ini Kemendag telah melakukan koordinasi dengan para pelaku ritel modern berskala besar untuk mengamankan pasokan dan mengendalikan harga kebutuhan masyarakat pada Ramadan dan Lebaran.

Sementara itu, untuk peritel skala kecil, kami akan ajak mereka untuk ikut dalam rapat koordinasi daerah. Kemendag akan memastikan bahwa mereka tercukupi dari segi pasokan barang, sehingga konsumen merasa aman dalam menghadapi periode Lebaran.

Untuk peritel nonmakanan dan minuman seperti fesyen dan produk lain-lain, momentum Lebaran tentu akan menjadi peluang bagi mereka untuk meningkatkan penjualan.

Dengan tren konsumsi masyarakat yang ada saat ini, alokasi belanja rumah tangga tentu akan cukup besar untuk produk seperti pakaian.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (8/4/2019)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ramadan, harga sembako, perspektif

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top