Demi Penghematan, JICT Tinjau Ulang Kekuatan Fasilitas Terminal

PT Jakarta International Container Terminal (JICT) tahun ini fokus meninjau kembali kekuatan fasilitas terminal sehingga tidak ada belanja modal signifikan.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 04 April 2019  |  18:31 WIB
Demi Penghematan, JICT Tinjau Ulang Kekuatan Fasilitas Terminal
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - PT Jakarta International Container Terminal (JICT) tahun ini fokus meninjau kembali kekuatan fasilitas terminal untuk penghematan sehingga tidak ada belanja modal yang keluar signifikan. 


Direktur Utama JICT Gunta Prabawa mengatakan, selain mempertahankan kinerja operasional, perusahaan melakukan review seluruh infrastruktur setelah 20 tahun beroperasi.  "Jumlah capex [capital expenditure/belanja modal] itu akan keluar setelah kami melakukan fully assessment," katanya, Kamis (4/4/2019).


Gunta memperkirakan bahwa investasi yang massif dimulai tahun depan. Tahun ini, JICT hanya mengeluarkan capex untuk biaya konsultan dan desain. 


Perusahaan patungan antara Pelindo II dan Hutchison Ports Holding (HPH) itu saat ini mengoperasikan 16 unit container crane, 62 rubber tyred gantry (RTG), dan 120 head truck. Seluruh crane bertipe post-panamax dan super post panamax dengan kemampuan angkat ganda (twin lift). 


Dengan peralatan itu, JICT mampu mempertahankan produktivitas bongkar muat peti kemas di atas 26 boks per crane per jam (BCH) dan produktivitas pelayanan kapal di atas 70 boks per kapal per jam (BSH). 


Kinerja produksi bongkar muat terus menanjak dari semula 1,4 juta TEUs pada 1999 --saat JICT mulai beroperasi-- menjadi lebih dari 2,4 juta TEUs setahun. Dalam 20 tahun, JICT telah membukukan throughput 37,3 juta TEUs. 


"Di JICT, kinerja terbentuk tidak hanya karena alat-alat baru. Performance ini karena perencanaan sampai dengan eksekusi operasi yang rapi. Makanya, meskipun yang lain punya alat lebih baru, JICT paling unggul," ujar Gunta.


Merespons tren ukuran kapal yang kian membesar, JICT berencana memperbarui peralatan. Kedalaman dermaga yang saat ini sudah 16 meter di bawah permukaan air (LWS) juga terbuka untuk ditambah jika dibutuhkan. "Detailnya kami masih kalkulasi terus." 


Gunta mengatakan, sejak berkolaborasi dengan Hutchison Ports mulai 1999, JICT telah berkembang menjadi terminal peti kemas yang didukung dengan teknologi, sumber daya manusia, dan sistem tata kelola terminal kontainer yang modern. 


Misalnya pada 2000, JICT merupakan pionir penggunaan twin lift technology di Tanjung Priok. Kemudian pada 2003, JICT sudah menerapkan web online services a.l. untuk pelayanan tracking container, invoice tracking, dan vessel schedule. Sejak 2015, seluruh transaksi di terminal JICT telah menerapkan sistem cashless payment

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peti kemas, jict

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top