Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tambang Emas Penyumbang Utama Limbah Merkuri

Petambang emas skala kecil baik yang resmi maupun ilegal masih menjadi penyumbang terbesar terhadap limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa merkuri.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 27 Maret 2019  |  08:46 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Petambang emas skala kecil baik yang resmi maupun ilegal masih menjadi penyumbang terbesar terhadap limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa merkuri.

Agus Prabowo, Penasehat Senior Unit Manajemen Lingkungan Hidup United Nations Development Program (UNDP) menyampaikan menurut data di Indonesia limbah B3 berupa merkuri yang dihasilkan dan terlepas ke lingkungan dari industri skala kecil sebanyak 340 ton m3 per tahun.

“Sekitar 60% [dari 340 ton m3] berasal dari sektor petambang emas. Dari 60% itu 60% terlepas ke udara, 20% ke air dan selebihnya ke dalam tanah,” kata Agus di Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Agus juga mengatakan bahwa Indonesia disebut sebagai negara nomor tiga yang melepaskan merkuri tersebut ke lingkungan.

Agus melihat ada tantangan besar untuk menyelesaikan masalah ini. Di mana pemerintah dan para stakeholder terkait harus mau ‘merayu’ para penambang emas untuk berhenti menggunakan merkuri dalam proses produksi mereka.

Menurutnya, merkuri merupakan bahan kimia yang sangat berbahaya baik bagi lingkungan maupun kesehatan dan kendala utama saat ini adalah fakta bahwa merkuri diperjual belikan secara umum. 

“Sekarang bagaimana caranya agar para petambang emas itu mau untuk menghilangkan mercury tetapi dengan pendekatan bisnis dan praktek yang sehat, kita harus mencari cara-cara yang elit, jadi sambil mereka [petambang emas] berubah [pola produksinya] dengan cara yang tetap menguntungkan mereka,” lanjutnya.

Merkuri yang dikenal sebagai air raksa/quicksilver, adalah logam putih keperakan yang sangat beracun yang cair pada suhu ruangan dan mudah menguap. 

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), begitu dilepaskan, merkuri dapat menjangkau jarak yang jauh dan bertahan di lingkungan serta bersirkulasi dengan udara, air, tanah dan organisme hidup. Paparan merkuri yang tinggi merupakan risiko serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tambang emas Merkuri
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top