Konsumsi Pupuk 2019 Diprediksi Tak Banyak Berubah

Konsumsi pupuk dalam negeri sepanjang 2019 diperkirakan tidak jauh beda dibandingkan dengan tahun lalu.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 26 Maret 2019  |  17:00 WIB
Konsumsi Pupuk 2019 Diprediksi Tak Banyak Berubah
Petugas memantau proses pengisian pupuk kedalam kapal saat produksi ekspor urea di Pelabuhan PT Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (18/9). PT Pupuk Indonesia menargetkan penjualan ekspor hingga sebesar Rp8,31 triliun sepanjang tahun 2018. - ANTARA/Reno Esnir

Bisnis.com, JAKARTA — Konsumsi pupuk dalam negeri sepanjang 2019 diperkirakan tidak jauh beda dibandingkan dengan tahun lalu.

Berdasarkan data Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI), sepanjang 2018 konsumsi urea bertumbuh 5% dari 5,97 juta ton menjadi 6,27 juta ton, sedangkan konsumsi NPK naik 7,88% dari 2,60 juta ton menjadi 2,80 juta ton.

Wijaya Laksana, Head of Corporate Communication PT Pupuk Indonesia (Persero), memperkirakan bahwa konsumsi sepanjang 2019 tidak akan banyak berubah dari realisasi 2018 karena alokasi pupuk subsidi pemerintah.

Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 Tahun 2018 tertuang bahwa jumlah alokasi pupuk subsidi pada tahun ini sebesar 8,874 juta ton dengan rincian urea sebanyak 3,825 juta ton, SP-36 sebesar 779.000 ton, ZA sebesar 996.000 ton, NPK sebesar 2,326 juta ton, dan organik sebesar 948.000 ton. Sementara itu, alokasi pupuk subsidi pada tahun lalu 9,55 juta ton.

“Proyeksi konsumsi pupuk dalam negeri tahun ini tidak banyak berubah dari tahun lalu karena subsidi juga tidak berubah signifikan,” ujarnya Selasa (26/3/2019).

Terkait dengan permintaan global, sepanjang 2018 ekspor pupuk dari Indonesia tercatat naik 48,88% dari 766.864 ton menjadi 1,141 juta ton. Wijaya menilai kenaikan ini salah satunya didorong oleh beberapa pabrik pupuk di luar negeri sedang mengalami perbaikan, seperti di China, sehingga permintaan ke Indonesia bertambah.

“Untuk tahun ini, Pupuk Indonesia belum bisa memperkirakan kondisi ekspor karena kami hanya boleh ekspor kalau dalam negeri sudah terpenuhi,” jelasnya.

Lebih jauh, dia menyebutkan beberapa tantangan bagi industri pupuk nasional antara lain kesiapan menghadapi pasar bebas dan bagaimana meningkatkan efisiensi. “Pupuk Indonesia berupaya memperbesar penetrasi pasar pupuk nonsubsidi, terutama untuk NPK. Kami saat ini sedang bangun pabrik untuk pasar komersial selain untuk subsidi,” kata Wijaya.

Pupuk Indonesia memiliki rencana ekspansi tahun ini antara lain pembangunan pabrik NPK di Palembang, Lhokseumawe, Bontang dan Cikampek dalam rangka peningkatan kapasitas produksi NPK. Dengan ekspansi ini, kapasitas terpasang pupuk NPK bakal naik dari 3,1 juta ton menjadi 5,5 juta ton.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor pupuk pada 2019 meningkat seiring dengan tercukupinya kebutuhan pupuk dalam negeri. Achmad Sigit, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin mengatakan stok pupuk sudah aman untuk tahun ini. Jumlah pupuk urea juga lebih banyak, sehingga ekspor masih bisa digenjot.

Kemenperin berencana menggenjot ekspor pupuk berbasis NPK seiring berkembangnya tren konsumsi pupuk jenis tersebut. Sigit pun menjelaskan pupuk berbasis urea akan dijaga tetap stabil.

"Ada jenis yang meningkat dan ada jenis yang tidak meningkat. Jadi yang berbasis urea kami upayakan tetap, tetapi yang meningkat nanti di NPK karena ada tren peralihan ke sana. Saat ini ada beberapa investasi yang akan mulai NPK," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pupuk Indonesia

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top