Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minim Investasi, Pendanaan Proyek Kereta Api Butuh Skema Inovatif

Pendanaan investasi di sektor perkeretaapian diakui sulit oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sehingga dibutuhkan skema-skema inovatif dalam penyelesaiannya.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 20 Maret 2019  |  19:45 WIB
Ilustrasi - Pengendara sepeda motor melewati perlintasan sebidang tidak resmi jalur rel kereta di kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/6). PT. KAI berkoordinasi dengan Pemda dan aparatur setempat akan menutup semua perlintasan sebidang di jalur kereta api secara bertahap. - Antara
Ilustrasi - Pengendara sepeda motor melewati perlintasan sebidang tidak resmi jalur rel kereta di kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/6). PT. KAI berkoordinasi dengan Pemda dan aparatur setempat akan menutup semua perlintasan sebidang di jalur kereta api secara bertahap. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pendanaan investasi di sektor perkeretaapian diakui sulit oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sehingga dibutuhkan skema-skema inovatif dalam penyelesaiannya.


Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta dan Banten (BTPWJB) Jumardi menuturkan bahwa salah satu proyek yang tertunda lama karena minimnya investasi yang masuk adalah proyek double double track (DDT) yang diimplementasikan di DKI Jakarta.


"Proyek DDT itu 17 tahun, bergeraknya setelah kami menggunakan pendanaan SBSN [Surat Berharga Syariah Negara]. Jepang sempat kecewa, tapi kami tidak mau tersandra oleh itu," ungkapnya kepada Bisnis, Rabu (20/3/2019).


Maklum saja, proyek mangkrak 17 tahun ini sudah mendapat komitmen pinjaman dari Jepang, tetapi karena kendala administratif seperti pembebasan lahan, dana tersebut tertahan.


Selain itu, dari komitmen investasinya, dana tersebut terus mengecil menyesuaikan dengan nilai tukar saat ini. Dengan demikian, pemerintah memilih pendanaan dengan sukuk atau obligasi syariah untuk mendanai DDT dalam hal ini perluasan stasiun Manggarai. 


"Akhirnya kita pakai pendanaan sukuk, birokrasinya lebih mudah setahun langsung jadi. Pinjaman utang paling cepat 3 tahun urus administrasi, itu juga birokrasinya banyak sekali," ungkapnya.


Saat ini, Stasiun Manggarai tengah diperluas menggunakan hasil dari inovasi pembiayaan tersebut. Pembangunan tahap satu diproyeksikan selesai pada akhir tahun ini, sementara tahap dua selesai pada 2021. 


Total investasi yang dibutuhkan sebesar Rp3,5 triliun yang didanai oleh Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kereta api Kemenhub pendanaan
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top