Tekan Disparitas Harga, Kemenhub Gagas Kontainer Masuk Desa

Program ini menggunakan kontainer mini yang bisa diangkut mobil pick up. Harapannya barang pokok dan penting bisa segera masuk ke pedesaan atau pulau terpencil.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  17:34 WIB
Tekan Disparitas Harga, Kemenhub Gagas Kontainer Masuk Desa
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan menggagas program kontainer masuk desa agar barang yang diangkut menggunakan kapal tol laut bisa langsung sampai ke masyarakat dengan harga lebih murah.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Wisnu Handoko mengatakan program ini merupakan lanjutan dari upaya penurunan disparitas harga antara Indonesia barat dan timur yang kini berkisar antara 15%-20%.

Menurut dia, rencana kontainer masuk desa sangat mungkin diterapkan agar barang yang diangkut dengan kontainer tol laut itu secara berjenjang diteruskan oleh kapal-kapal perintis laut, kapal perintis penyeberangan, dan kapal pelayaran rakyat sebagai armada semut.

Kemenhub akan menggandeng PT Pelindo Marine Service, anak perusahaan PT Pelindo III (Persero), untuk menyiapkan kontainer mini (minicon).

Kontainer berukuran sepertiga dari peti kemas 20 kaki itu bisa diangkut menggunakan truk kecil atau mobil bak terbuka dan bisa masuk ke wilayah perdesaan, pulau terpencil maupun daerah yang tidak memiliki infrastruktur jalan raya lebar.

"Integrasi moda tol laut dengan moda darat, baik angkutan sungai maupun angkutan jalan, juga akan didorong untuk melayani angkutan barang. Dengan begitu, proses distribusi logistik bisa mencakup end-to-end, dimulai dari penjual barang sampai penerima barang," ujar Wisnu, Rabu (27/2/2019).

Selama ini, kapal tol laut hanya dapat bersandar di pelabuhan tertentu. Kargo harus dibongkar keluar kontainer, lalu dipindah ke kapal perintis, kemudian ke kapal pelayaran rakyat, untuk diangkut ke pelabuhan kecil. Sampai di pelabuhan kecil, barang dibongkar lagi, baru dinaikkan ke truk, dan dibawa ke desa-desa.

Jika menggunakan kontainer mini maka, begitu dibongkar dari kapal tol laut bisa langsung dimuat ke kapal perintis dan kapal pelra. Sampai di pelabuhan kecil, kontainer mini bisa langsung diangkut menggunakan truk atau mobil pick up ke desa-desa.

Dengan demikian, barang tidak perlu dibongkar atau berpindah tangan berkali-kali sehingga harga yang terbentuk di konsumen akhir lebih rendah.

Untuk tahap awal, program kontainer masuk desa ini akan dimulai di salah satu desa di pulau terluar Indonesia, yakni Desa Essang di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Memberamo dan Boven Digoel di Papua menyusul kemudian.

"Program ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan berbagai bahan pokok dan penting di wilayah desa yang selama ini belum maksimal," kata Wisnu.

Kontainer masuk desa juga diharapkan dapat memicu muatan balik kapal tol laut yang selama ini rendah.

Data Ditjen Perhubungan Laut menyebutkan realisasi muatan berangkat pada 2018 sebanyak 229.565 ton, tetapi realisasi muatan baliknya hanya 5.502 ton. 

Dengan keberadaan kontainer sampai ke desa-desa, akses pemasaran hasil komoditas desa ke berbagai wilayah diharapkan lebih mudah sehingga ekonomi desa tumbuh.

"Tidak bisa hanya karena suatu daerah belum ada muatan baliknya, lalu daerah tersebut ditinggalkan oleh trayek tol laut. Justru yang perlu dilakukan bagaimana membantu masyarakat menkonsolidasi produk hasil daerahnya agar bisa dibawa oleh kapal penumpang Pelni, kapal perintis, kapal kontainer tol laut, dan kapal ternak," ujar Wisnu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logistik, Tol Laut

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup