Produksi Getah Karet Ditarget Capai 3,8 Juta Ton

Kementerian Pertanian menargetkan bisa memproduksi getah karet sampai 3,8 juta ton, naik 200.000 ton dibandingkan dengan target tahun lalu. 
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  07:57 WIB
Produksi Getah Karet Ditarget Capai 3,8 Juta Ton
Menko Perekonomian Darmin Nasution (tengah) didampingi Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono (kedua kiri), Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo (kedua kanan) Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri (kanan) dan Deputi Bidang Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro memberikan keterangan pers, di Jakarta, Senin (25/2/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Pertanian menargetkan bisa memproduksi getah karet sampai 3,8 juta ton, naik 200.000 ton dibandingkan dengan target tahun lalu. 

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mengatakan produksi getah karet tahun berhasil melampaui target produksi. Adapun target produksi tahun lalu dipatok sekitar 3,6 juta ton dengan realisasi 3,76 juta ton.

"Tahun  2018 kemarin catatan kita target 3,68 juta ton tapi realisasi sudah 3,76 juta ton. Itu angka sementara. Tapi target 2019 getah karet 3,81 juta ton sekian," katanya, Senin (25/2).

Kasdi optimistis pasalnya peremajaan karet sudah berlangsung dari empat tahun lalu. Tahun ini, harusnya karet yang telah diremajakan menuai hasil maksimal. Selain itu faktor cuaca juga diperkirakan mendukung untuk produksi.

"Kami sudah menghitung potensi el nino. kita akan melakukan kajian mitigasi risiko dengan pertimbangan cuaca. mudah mudahan tidak meleset," katanya.

Menurutnya, dari segi kerentanan tanaman perkebunan lebih kuat terhadap cuaca. Adapun yang menjadi isu utama dalam perkebunan adalah mitigasi produksi dibandingkan dengan adaptasi. 

Mengurangi resiko atau memitigasi, lanjutnya, bisa diantisipasi dengan sistem logistik benih yang baik untuk peremajaan. Hal ini penting pasalnya kualitas benih menentukan produksi jangka panjang.

Hal lain yang menjadi fokus Kementan adalah konversi lahan karet menjadi sawit. Kasdi mengatakan seharusnya ini tidak terjadi karena pendapatan petani dari karet bersifat harian.

"Intinya, dinamika karena perubahan harga yang tidak menguntungkan membuat petani geser ke yang lain seperti sawit. Padahal karet bisa jadi daily income. Konversi pada beberapa kasus, bisa saja karena dinamika harga kalau tidak menguntungkan, ya mereka tidak mau tanam," pungkasnya.

 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
karet, Produksi karet

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top