Transportasi Darat Bisa Manfaatkan Momentum Mahalnya Tiket Pesawat

Kemenhub ingin mengantisipasi tingginya harga tiket penerbangan dengan mempersiapkan fasilitas angkutan darat sebaik mungkin.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  13:35 WIB
Transportasi Darat Bisa Manfaatkan Momentum Mahalnya Tiket Pesawat
Bus terparkir saat menunggu penumpang di Terminal Tirtonadi, Solo, Kamis (3/1). - JIBI/M. Ferri Setiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdar), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ingin memanfaatkan momentum tingginya harga tiket pesawat untuk kebangkitan moda transportasi darat.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kemenhub, Budi Setyadi menuturkan pihaknya ingin mengantisipasi tingginya harga tiket penerbangan dengan mempersiapkan fasilitas angkutan darat sebaik mungkin, dan yang terpenting lanjutnya adalah keselamatan penumpang tetap terjaga.

"Ini momentum bagi transportasi darat khususnya moda transportasi bus, sekarang kita lihat masyarakat sudah mulai banyak menggunakan transportasi bus, misalkan Jakarta ke Solo tadinya memilih pesawat sekarang sudah banyak yang menggunakan bus," tuturnya di Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Pihaknya saat ini sedang menghitung seberapa besar kenaikan okupansi bus akibat penurunan pengguna angkutan udara tersebut. "Kemarin dari beberapa operator mengatakan sudah ada peningkatan yang sangat signifikan terhadap persepsi atau kepercayaan masyarakat untuk menggunakan bus kembali," imbuhnya.

Adapun terkait bus tol Trans-Jawa yang diwacanakan oleh pemerintah beberapa waktu terakhir akan segera dibangun segala kebutuhannya untuk menghidupkan bus tersebut.

Budi Setyadi mengklaim sudah mendapatkan pandangan kebutuhan dan harapan masyarakat terkait bus tol Trans-jawa tersebut, mulai dari layanan, hingga tarifnya.

"Minggu depan akan dipaparkan Badan Penelitian Pengembangan Kemenhub mengenai masalah opini masyarakat, setelah itu baru eksekusi," tegasnya.

Menurutnya, bus tersebut harus memenuhi standar kebutuhan seperti harus lebih cepat atau sama dengan kecepatan kereta api, kemudian tidak keluar ke jalan nasional jadi tetap melalui tol.

Dengan demikian, karena tidak melalui tol, dibutuhkan tempat istirahat di rest area atau tempat istirahat dan pelayanan (TIP). Artinya, dibutuhkan spesifikasi TIP yang juga berfungsi sebagai terminal.

"Saya sudah minta ke PUPR dan Jasa Marga diantara sekian rest area akan ada yang kita fungsikan sebagai terminal sehingga akan mengubah sedikit regulasi peraturan menteri PUPR," katanya.

Dia menyebut penyediaan infrastrukturnya pun akan dilaksanakan secara bertahap menyesuaikan dengan kebutuhan dari perusahaan otobus (PO) yang melayani trayek melalui tol Trans-Jawa dan jumlah armada yang melaluinya.

Sebelumnya, PO swasta sudah mengklaim branding bus tol Trans-Jawa dengan melayani jalur Jakarta-Semarang-Solo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tiket pesawat, tol trans jawa

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup