Asyik Kejar World Class University, Perguruan Tinggi Lupa Link and Match

Program link and match semakin sulit dikejar karena pemerintah terlalu detail dalam mengatur perguruan tinggi dengan beragam aturan yang mengikat.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  19:12 WIB
Asyik Kejar World Class University, Perguruan Tinggi Lupa Link and Match
Menteri ESDM Ignasius Jonan bersama Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono mencoba becak listrik karya dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik di Kampus UGM Yogyakarta, Jumat (18/01/2019). - JIBI/Desi Suryanto

Bisnis.com, JAKARTA — Perguruan tinggi di Indonesia dinilai terlalu fokus mengejar status world class university. Hasilnya, banyak yang lupa untuk membangun link and match dengan industri.

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Budi Djatmiko mengatakan, perguruan tinggi di Indonesia selama ini terus mengejar status world class university. Padahal, untuk mengejar world class university dibutuhkan aktivitas penelitian yang berkualitas dan sarana serta prasarana yang memadai 

"India selama ini tidak mengejar world class university (WCU) yang mereka pentingkan adalah link and match antara perguruan tinggi dengan dunia industri," ujarnya kepada Bisnis, Minggu, (24/2/2019). 

Budi menambahkan, program link and match semakin sulit dikejar karena pemerintah terlalu detail dalam mengatur perguruan tinggi dengan beragam aturan yang mengikat. Regulasi yang sangat ketat ini membuat perguruan tinggi sulit berkreasi. 

Dia menilai, mestinya tak semua perguruan tinggi berorientasi pada riset. Sebagian bisa berkonestrasi terhadap pendidikan dan pelatihan seperti universitas terbuka. Apalagi, saat ini link and match adalah kualitas paling penting dari perguruan tinggi.

Program link and match bisa dilakukan dengan membuka program studi yang sesuai kebutuhan pada masa depan tentunya yang sesuai revolusi industri keempat yakni sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau science, technology, engineering, and mathematics (STEM).

Perguruan tinggi, menurut Budi, bisa berlomba membuka program studi sesuai kebutuhan industri dengan memanfaatkan kemudahan untuk membuka program studi yang hanya 15 hari.

"Di Indonesia masih terpaku dengan world class university, untuk meningkatkan kualitas prodi agar dapat link and match dengan pengusaha [masih kurang]," tutur Budi.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perguruan tinggi

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top