Pengembangan Sawit Masih Perlu Dukungan Data Lahan Secara Benar

Pendataan lahan sawit secara benar serta peningkatan sumber daya manusia penting dilakukan dalam meningkatkan peranan komoditas sawit Indonesia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Februari 2019  |  21:02 WIB
Pengembangan Sawit Masih Perlu Dukungan Data Lahan Secara Benar
Siluet pekerja merapikan tumpukan kelapa sawit di perkebunan di Jawa Barat belum lama ini. - Bisnis.com/Nurul Hidayat

Bisnis.com, MAKASSAR – Pendataan lahan sawit secara benar serta peningkatan sumber daya manusia penting dilakukan dalam meningkatkan peranan komoditas sawit Indonesia.

"Kita perlu bekerja berdasarkan data yang benar sehingga bisa direncanakan dengan baik," kata pakar pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) Laode Asrul di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (23/2/2019).

Dia menjelaskan yang menjadi persoalan dalam hal pendataan adalah daerah kesulitan akibat tidak punya anggaran. Sehingga butuh kerja sama antara pemda dan pemilik perusahaan sawit.

"Tentu tujuannya agar bisa mendapatkan data yang benar dan dapat merencanakan secara maksimal," ujarnya.

Selain pendataan, masalah pengembangan sawit juga harus menjadi fokus seluruh pihak yang berkepentingan, mulai dari sektor hulu atau produsen.

Persoalan sumber daya petani juga harus meningkat. Petani harus punya pengetahuan bagaimana mengelola hutan budi daya sawit agar bisa lebih optimal. "Termasuk lahannya, petaninya, pasarnya juga harus dikelola dengan baik atau keterlanjutan."

Sertifikasi petani, ujarnya, perlu dilakukan karena hal ini menjadi jalan bagi lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing untuk menyerang sawit Indonesia, apalagi memang masih ada perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja di bawah umur.

Dengan sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) terhadap perusahaan dan petani sawit di Indonesia, masalah lingkungan yang menjadi sasaran tembak pihak asing juga tentunya bisa diminimalkan.

"Banyak perusahaan sawit kita yang sudah besar, namun belum memiliki ISPO. Berapa persen perusahaan yang telah tersertifikasi. Saya belum tahu persis jumlahnya, namun memang masih kecil yang sudah tersertifikasi," ujarnya.

Menurut dia, pengembangan sekolah sawit khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) merupakan upaya nyata dalam meredam isu negatif yang kerap menerpa industri sawit Tanah Air. Serbuan isu miring yang dilakukan pihak asing kerap menerpa industri sawit nasional. Yang sering menjadi sasaran adalah perusakan hutan sampai hilangnya keragaman hayati.

"Ide pengembangan sekolah sawit merupakan hal yang positif. Sebab di sekolah sawit, kita bisa mendidik dan mengajarkan tenaga (petani) muda di desa agar di samping fokus untuk meningkatkan pendapatan juga sekaligus menjaga lingkungan sekitarnya," kata Asrul.

Pakar pertanian Unhas lainnya, Muslim Salam, menilai perusahaan sawit atau petani sawit bisa mencoba melakukan kombinasi tanaman yang cocok dengan karakter tanaman sawit.

Hal itu, kata dia, merupakan upaya untuk menciptakan pertanian sawit yang ramah lingkungan.

Penggunaan teknologi pertanian yang lebih canggih juga dianggap menjadi salah satu solusi untuk memaksimalkan peran sawit nasional.

"Harus diperhatikan aspek budi daya, kombinasi dengan tanaman lain, pola campuran kita harus dikembangkan. Seperti saya saksikan di Malaysia, perkebunan sawit menjadi masalah setelah tidak melakukan upaya perbaikan lingkungan. Jadi, jangan sampai juga terjadi di sawit kita yang justru membuat LSM asing memiliki celah," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sawit

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup