Simalaka Ekspor Batu Bara: Harga Versus Devisa

Upaya meningkatkan ekspor batu bara di tengah stagnasi permintaan global ibarat memakan buah simalakama. Jika ekspor dinaikkan, harga berpotensi jatuh; sedangkan bila ekspor ditahan, negara tidak memperoleh tambahan devisa.
Lucky Leonard/Dika Irawan/Dara Aziliya
Lucky Leonard/Dika Irawan/Dara Aziliya - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  12:31 WIB
Simalaka Ekspor Batu Bara: Harga Versus Devisa
potensi batu bara Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA — Upaya meningkatkan ekspor batu bara di tengah stagnasi permintaan global ibarat memakan buah simalakama. Jika ekspor dinaikkan, harga berpotensi jatuh; sedangkan bila ekspor ditahan, negara tidak memperoleh tambahan devisa.

Ekspor batu bara menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (19/2/2019). Berikut laporannya.

Di tengah situasi ini, pemerintah harus mencari cara untuk memacu serapan batu bara di pasar domestik.

Selama ini, Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia selain Australia. (Lihat grafis)

Berdasarkan data Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, produksi batu bara pada 2018 mencapai 548,58 juta ton, lebih tinggi 20 juta ton dari catatan awal Januari 2019 sebanyak 528 juta ton.

Dari jumlah itu, pasokan untuk kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) hanya 115 juta ton. Artinya, ekspor batu bara Indonesia mencapai 433,58 juta ton, dengan asumsi seluruh batu bara berhasil dijual.

Pada 2018, pemerintah menambah kuota produksi 100 juta ton yang seluruhnya untuk pasar ekspor. Hal itu bertujuan memperbaiki defisit neraca perdagangan.

Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, mengatakan tingginya ekspor tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan harga. “Kebijakan pelonggaran ekspor batu bara berperan menekan harga,” ujarnya, Senin (18/2).

Kenaikan ekspor ini terjadi di tengah turunnya permintaan batu bara dari negara importir, a.l. dari India yang terkoreksi 11% secara tahunan menjadi 17,25 juta ton pada Januari tahun ini.

Deddy Yusuf Siregar, Analis Asia Trade Point Futures, mengatakan bahwa penurunan impor batu bara di India telah menjadi sentimen negatif bagi harga komoditas andalan Indonesia tersebut.

Kementerian ESDM menetapkan harga batu bara acuan (HBA) Februari 2019 senilai US$91,8 per ton, turun 0,66% dari HBA Januari 2019 yang ditetapkan sebesar US$92,41 per ton. Sejak September 2018, HBA terus terkikis dan belum pernah mencetak kenaikan secara bulanan.

Hendra menambahkan, sejauh ini para produsen dan kontraktor pertambangan masih pikir-pikir untuk mempertahankan tingkat produksinya. Pasalnya, permintaan batu bara diprediksi cenderung stagnan pada tahun ini.

PT Bumi Resources Tbk., salah satu produsen batu bara terbesar di Tanah Air, membidik target penjualan batu bara pada tahun ini sebesar 96 juta ton, meningkat 11,63% secara tahunan.

“Pada 2020, BUMI menargetkan penjualan 100 juta ton,” ungkap Presiden Direktur Bumi Resources Saptari Hoedjaja.

TARGET PRODUKSI

Di tengah kondisi ini, Kementerian ESDM menargetkan produksi batu bara pada tahun ini sebanyak 490 juta ton.

Bahkan, realisasinya berpeluang kembali menembus 500 juta ton dengan didominasi oleh porsi ekspor. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan potensi tingginya produksi tersebut selalu membayangi setiap tahun.

Pemerintah memberikan ruang bagi para produsen batu bara untuk meningkatkan produksinya hingga 10% dari jumlah yang telah disetujui dengan syarat telah memenuhi persentase minimal kewajiban pasokan DMO.

“Dengan mempertimbangkan beberapa faktor produksi, mungkin saja produksi tembus 500 juta ton lagi tahun ini.”

Pada tahun ini, Kementerian ESDM menyatakan DMO batu bara mencapai 128 juta ton, lebih tinggi dari realisasi DMO tahun lalu 115 juta ton atau setara 26% dari target produksi 490 juta ton.

Kebutuhan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih mendominasi dengan 95,73 atau 74,77% dari total DMO.

“Pertumbuhan konsumsi PLTU pasti naik karena ada proyek 35.000 megawatt ,” tutur Gatot.

Terkait dengan kenaikan produksi ini, Hendra mengharapkan pemerintah perlu mempertimbangkan pengendalian produksi dengan tetap memperhatikan dampak terhadap penerimaan negara serta perekonomian daerah setempat.

“Yang jelas harus hati-hati dalam menghitungnya.”

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top