Harga Tiket Pesawat Turun, Perhotelan di Bali Optimistis Okupansi Segera Normal

Pelaku pariwisata di Bali optimistis tingkat hunian kamar atau okupansi hotel akan kembali normal yakni mencapai 60% hingga 65% pada periode Januari sampai Juni pascapenurunan harga tiket pesawat.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  17:09 WIB
Harga Tiket Pesawat Turun, Perhotelan di Bali Optimistis Okupansi Segera Normal
Turis mancanegara di Bali - Antara

Bisnis.com, DENPASAR – Pelaku pariwisata di Bali optimistis tingkat hunian kamar atau okupansi hotel akan kembali normal yakni mencapai 60% hingga 65% pada periode Januari sampai Juni 2019 ini setelah penurunan harga tiket pesawat.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya mengakui sejak terjadi kenaiakan harga tiket pesawat, okupansi hotel berada di angka 50%. Kunjungan wisatawan domestik, menurutnya, yang paling terguncang akibat kenaikan harga tiket pesawat tersebut.

Padahal, pada periode Januari sampai Juni, rata-rata okupansi hotel di Bali mencapai 60% hingga 65%. Penurunan harga tiket pesawat pada beberapa rute penerbangan dinilai akan membangkitkan kunjungan wisatawan, terutama domestik. “Penurunan harga tiket ini akan memberikan peningkatan 10% okupansi hotel di Bali,” katanya, Senin (18/2/2019).

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menilai kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi beberapa waktu lalu memang tidak berdampak signifikan pada pariwisata Pulau Dewata dibanding destinasi lain.

Dia mengakui memang terjadi penurunan kunjungan wisata di Bali pada perhitungan Januari hingga pertengahan Februari 2019 dibanding periode sama tahun lalu sebesar 14%-18%. Namun, penurunan ini dinilai tidak lebih tinggi dibanding destinasi lain di Indonesia yang penurunan sebesar 50% hingga 60% selama Januari hingga Pertengahan Februari 2019 dibanding periode sama tahun lalu.

“Bali memang tidak terlalu berpengaruh karena kita kan masih over land dan dekat dengan Jawa, jadi masih bisa dicapai mudah,” katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai kenaikan harga tiket pesawat ini memang hampir mempengaruhi semua destinasi di Indonesia. Rata-rata tingkat hunian kamar (okupansi) menurun sekitar 50% sampa 60% pada perhitungan Januari-Februari 2019 dibanding periode sama tahun lalu.

Biasanya, saat masa low season yang terjadi pada bulan-bulan tersebut, penurunan okupansi hanya sekitar 30% dibanding high season yang terjadi di akhir tahun.

“Ekosistem [wisatawan] akan sangat terganggu, jadi akibatnya okupansi hotel drop, bandara terkena impact dari eknaiakan harga besar dan mendadak,” katanya.

Menurutnya, destinasi yang sangat terdampak adalah yang berada di luar Jawa. Wisatawan domestik yang berada di Pulau Jawa masih mudah dapat mengunjungi destinasi. Wisatawan domestik asal JAwa sendiri merupakan penyumbang jumlah kunjungan tertinggi. Hanya saja, ketika wisatawan dari Pulau Jawa ini ingin melakukan wisata ke luar pulau, hal tersebut yang akan memberatkan.

Dia menilai kenaikan harga tiket pesawat ini sangat tidak wajar sebab dilakukan mendadak dan dalam jumlah besar. Kenaiakan ini tentu akan menimbulkan dampak penurunan penumpang dan wisatawan secara drastis.

Walaupun sudah mulai ada penurunan, tetapi masyarakat tetap saja menilai harga ini mahal. “Sebaiknya turunkan ke harga awal, kalau mau naik lakukan secara bertahap itu bijaksana,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top