Upayakan Kenaikan Konsumsi Ikan, Menteri Susi Dorong Perikanan Budidaya di Kerinci

Upayakan Kenaikan Konsumsi Ikan, Menteri Susi Dorong Perikanan Budidaya di Kerinci
Juli Etha Ramaida Manalu | 13 Februari 2019 03:27 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan keterangan kepada wartawan - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Kelautan dan Periknan Susi Pudjiastuti mendorong kegiatan budidaya perikanan berbasis masyarakat di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi.

Menurutnya, Kabupaten kerinci memiliki Danau Kerinci yang luasnya mencapai 4,6 kilometer dan kaya akan hasil perikanan. Namun, di saat yang sama, angka konsumsi ikan masyarakat Kerinci masih jauh di bawah rata-rata konsumsi nasional yang mencapai 50,69 kilogram per kapita per tahun sepanjang 2018.

“Bukan cuma laut, danau ada, sungai juga ada, lubuk ada, rawa juga ada, dan semua wilayah air itu berpotensi untuk menghasilkan (komoditi perikanan dengan kandungan) protein sangat tinggi,” tuturnya seperti dikutip dari keterangan pers, Selasa (12/2/2019).

Untuk mendorong kegiatan budidaya masyarakat, menurut Menteri Susi, KKP dapat menyediakan bantuan mesin-mesin pembuat pakan mandiri (Gerakan Pakan Mandiri/Gerpari). Hal ini untuk mengurangi ongkos yang harus dikeluarkan pembudidaya untuk membeli pakan dari pabrik yang dijual dengan harga tinggi.  

KKP juga menyerahkan bantuan berupa 300.000 ekor benih ikan mas; 300.000 ekor benih ikan nila; 120.000 ekor benih ikan lele; 120.000 ekor benih ikan jelawat dan nilem; 10 ton pakan ikan mandiri; 2 paket budidaya sistem bioflok; 3 unit c

Kendati demikian, dalam pemanfaatan Danau sebagai salah satu sumber penghasil pangan di sektor perikanan, diapun meminta agar masyarakat untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutannya. Salah satunya dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan menghindari eksploitasi berlebihan. 

“Danau Kerinci yang cantik ini, selama ini telah membantu Bapak dan Ibu menghasilkan uang untuk menyekolahkan anak, membangun rumah, dan membangun hal lainnya. Jangan sampai berubah menjadi malapetaka. Belajarlah dari kejadian-kejadian yang sudah terjadi di Jawa Barat, di Maninjau, di Singkarak, di Toba, di mana terjadi kematian massal ikan karena tidak terkontrolnya jumlah populasi keramba jaring apung (KJA),” tutur Menteri Susi.

Ia pun berpesan, agar Pemda setempat memperhatikan daya dukung danau terhadap budidaya KJA. Ia meminta masyarakat tidak memaksa menambah jumlah KJA jika memang sudah mencapai limit.

 “Jika danaunya daya dukungnya tidak kuat, akan terjadi hydrogen sulfide naik, upwelling, akhirnya ikan Bapak-bapak mati semua, ribuan ton ikan mati. Kita menanam ikan hanya untuk kematian, utang ke perbankan tidak bisa bayar,” Menteri Susi mengingatkan. 

Menurutnya, warga Kerinci masih memiliki alternatif lahan budidaya ikan lain, yaitu banyaknya lubuk-lubuk besar. Lubuk ini dapat dibangun menjadi embung tempat memelihara ikan ketimbang memaksakan KJA di danau yang sudah mencapai batas. 

Di sisi lain, dia menyampaikan bahwa Danau Kerinci juga sangat berpotensi dijadikan daerah pariwisata dengan kondisi alam yang indah. Namun untuk itu, kebersihan lingkungan harus dijaga dengan tidak membuang sampah ke danau, terutama sampah plastik. 

“Pemakaian sampah sekali pakai dikurangi. Sedotan tidak perlu lagi, wong [minum] dari gelas bisa. Makan kelapa muda langsung juga lebih enak. Kantong kresek bisa diganti dengan kantong kain atau ganepo yang tahan bertahun-tahun,” pesannya. 

Dengan demikian, ekosistem produktif dapat terjaga. Saluran air tidak tersumbat sampah yang dapat menyebabkan banjir. 

Sementara itu, Bupati Kerinci, Adirozal mengatakan Pemda setempat terus berupaya mendorong peningkatan konsumsi ikan masyarakat Kerinci. Salah satunya dengan melakukan penebaran benih ikan semah, ikan khas andalan Kerinci. Menurutnya, pihaknya juga telah melakukan pelatihan teknis dan pengamanan suaka perikanan Danau Kerinci sehingga diharapkan produksi perikanan dan tangkapan nelayan meningkat. 

Namun demikian, ia mengakui, kawasan usaha perikanan Kerinci memang belum dikelola secara optimal. Kendalanya adalah kurangnya permodalan, mahalnya pakan ikan, kurangnya ketersediaan benih unggul, dan kurangnya sarana prasarana pembenihan maupun pengawasan. 

Untuk itu, ia merasa sangat terbantu dengan kehadiran KKP yang membawa solusi bantuan permodalan nelayan, gerakan pakan madiri, dan penyerahan sejumlah bantuan bibit ikan. 

“Kedatangan KKP ini menjadi penyemangat bagi kami untuk melakukan pembangunan di bidang perikanan,” katanya.  

Tag : Susi Pudjiastuti
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top