Kemendag: Defisit Perdagangan Besi dan Baja Bisa Turun, Ini Resepnya

Pemerintah optimistis dapat menurunkan defisit neraca perdagangan besi baja hingga US$4,4 miliar tahun ini.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 31 Januari 2019  |  17:29 WIB
Kemendag: Defisit Perdagangan Besi dan Baja Bisa Turun, Ini Resepnya
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melakukan kunjungan ke pabrik PT Gunung Raja Paksi Tbk., ditemani oleh Komisaris Utama Gunung Steel Gorup Djamaluddin Tanoto, dan Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi Tbk. Alouisius Maseimilian, Kamis (31/1 - 2019).
Bisnis.com, CIKARANG — Pemerintah optimistis dapat menurunkan defisit neraca perdagangan besi baja hingga US$4,4 miliar tahun ini.
Optimisme itu seiring dengan tren peningkatan produksi, dan semakin eratnya hubungan antara pelaku usaha hulu dan hilir.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan ekonomi dunia sedang fase kontraksi, dan hal tersebut akan membuat peningkatan ekspor khususnya besi dan baja sedikit lebih sulit.
Namun, hal tersebut bukan berarti defisit neraca perdagangan akan kembali melebar, karena kementerian akan lebih fokus dalam mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan mempererat hubungan pelaku usaha hulu dan hilirdemi membendung impor.
"Pasar dalam negeri dulu yang akan kami fokuskan. Namun, kami masih tetap optimistis bisa menekan defisit neraca perdagangan besi baja hingga 4,4 miliar," katanya,  Kamis (31/1/2019).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan yang dicatatkan sektor besi dan baja pada 2018 mencapai US$4,5 miliar. Angka itu turun 3,22% dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai US$4,65 miliar.
Enggar menjelaskan pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan menurun 0,2%, turun dari proyeksi awal 3,7%. Hal tersebut menandakan permintaan akan barang baku yang berkaitan dengan pembangunan, salah satunya besi dan baja juga tidak dapat ditingkatkan secara optimal. Tekanan ekspor juga terjadi akibat perang dagang antar dua negara adidaya China dan Amerika.
"Ya kita tidak bisa memungkiri kalau fenomena ini akan mengancam ekspor kita. Pertumbuhan ekonomi luar negeri melambat, begitu juga permintaan besi baja Indonesia," ujarnya.
Namun, Enggar memastikan program penekanan defisit neraca perdagangan akan tetap berjalan. Kemendag akan mendorong pelaku industri besi baja untuk meningkatkan produksinya, sehingga kebutuhan besi baja dalam negeri yang 50% masih berasal dari produk impor dapat dikurangi.
"Saya sudah bicara dengan pelaku usaha. Mereka akan tingkatkan produksi mereka, rupanya kapasitas produksi mereka besar, masih bisa tingkatkan produksi," ucapnya.
Berdasarkan catatan Bisnis [25/1], beberapa emiten besi dan baja memang tengah merencanakan peningkatan produksi tahun ini. 
Contohnya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., yang menargetkan total volume produksi 5 juta ton yang bersumber dari produksi Krakatau Steel 2,3 juta ton dan Krakatau Posco (KP) 2,7 juta ton. Angka tersebut berasal dari peningkatan volume produksi iron making 100%, steel making 30%, dan rolling & plate mill 40%.
PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. juga akan meningkatkan produksi sebesar 20% pada tahun ini, yakni dari 330.000 ton menjadi 400.000 ton. Perusahaan masih dapat meningkatkan produksi lebih tinggi karena memiliki kapasitas produksi mencapai 600.000 ton per tahun.
PT Saranacentral Bajatama Tbk. juga akan meningkatkan produksi sebesar 14,29% tahun ini, naik dari 105.000 ton menjadi 120.000 ton.
Enggar mengatakan, Kemendag juga akan lebih giat memantau kerja sama antara pelaku usaha hulu dan hilir. Dia berharap, peningkatan produksi dapat terserap dan  menjadi substitusi produk impor selama ini.
Meski tak dapat memastikan industri hilir mendapat bahan baku dengan harga yang lebih kompetitif, tetapi dia melihat sudah ada keseragaman tujuan dari pelaku-pelaku tersebut.
"Hubungan pelaku usaha hulu dan hilir semakin erat. Mereka tentukan sendiri harganya, tetapi mereka sudah banyak jalin kerja sama," ucapnya.
Di luar upaya peningkatan penggunaan produk dalam negeri, Enggar memastikan akan tetap mencari celah untuk peningkatan impor. "Walau sulit, tetapi Presiden terus memerintahkan kita untuk tetap mencari celah untuk tetap meningkatkan ekspor," ujarnya. 
Dia mengatakan, kementerian masih mengusahakan 13 perjanjian dagang dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Adapun, salah satu perjanjian dagang tersebut Regional Comprehesnive Economic Patnership (RCEP), yang diikuti oleh negara anggota Asean, Australia, India, Jepang, Korea Selatan, China, dan Selandia Baru.
"Ini kalau kita bisa realisasikan maka akan sangat besar potensi kita untuk dapat meningkatkan ekspor lebih cepat lagi," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri besi baja

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top