Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Misi Dagang, Efektifkah Mendorong Ekspor Nonmigas RI?

Pelaku usaha menilai program misi dagang yang dilakukan pemerintah tidak akan efektif menopang kinerja ekspor nonmigas secara jangka panjang.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  15:19 WIB
Sejumlah delegasi dari puluhan perusahaan asal Taiwan melakukan misi dagang ke Surabaya, Jawa Timur, Rabu (11/5/2016). - Bisnis/Peni Widarti
Sejumlah delegasi dari puluhan perusahaan asal Taiwan melakukan misi dagang ke Surabaya, Jawa Timur, Rabu (11/5/2016). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha menilai program misi dagang yang dilakukan pemerintah tidak akan efektif menopang kinerja ekspor nonmigas secara jangka panjang.

Kementerian Perdagangan mematok target awal yang relatif moderat untuk transaksi misi dagang tahun ini, yakni sekitar US$15 miliar dengan membidik 10 negara mitra.

Jumlah tersebut berada di bawah realisasi misi dagang pada tahun lalu dengan 13 negara mitra dan capaian nilai transaksi US$14,79 miliar.

Menanggapi hal itu, Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono mengatakan, misi dagang merupakan metode dagang klasik yang berperan penting dalam mendorong ekspor. Hanya saja, dia melihat efektivitas misi dagang untuk mendukung ekspor masih bersifat jangka pendek.

“Misi dagang ke negara nontradisional memang penting. Namun, jangan serampangan mengerjakannya. Intinya jangan main coba-coba, karena pemerintah harus siapkan betul informasi produk yang dibutuhkan negara tujuan dan pastikan keberadaan calon pembeli produk kita di negara tujuan,” jelasnya kepada Bisnis.com, Selasa (29/1/2019).

Dia melanjutkan, selama ini misi dagang yang dilakukan Kemendag sering dilakukan tanpa koordinasi yang maksimal dengan dunia usaha. Akibatnya, pemilihan produk yang akan dijual menjadi terbatas dan seringkali tidak tepat sasaran dengan potensi pasar di negara tujuan.

Handito juga mengatakan, potensi nilai transaksi yang diperoleh dari misi dagang sejatinya bisa lebih besar daripada yang dicapai pada tahun lalu. Terlebih, misi dagang tersebut melibatkan jumlah negara mitra yang cukup banyak.

“Pemerintah kurang terbuka dalam menentukan target misi dagangnya tiap tahun. Misalnya, pada tahun ini akan melakukan misi dagang ke negara mana saja. Kecenderungannya, pemerintah menentukan negara misi dagangnya secara dadakan, akhirnya persiapan dari dunia usaha juga terbatas,” tegasnya.

Selain itu, menurutnya, sering kali dalam pergelaran business matching saat misi dagang, pemerintah atau perwakilan dagang di negara tujuan gagal menghadirkan calon pembeli yang tepat. Akhirnya, pertemuan antarpengusaha tersebut hanya menciptakan nilai transaksi yang terbatas dan tidak berdampak jangka panjang kepada ekspor Indonesia.

Senada, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno menegaskan, pemilihan negara tujuan misi dagang—terutama mitra nontradisional—tidak disesuaikan dengan spesialisasi produk yang dimiliki Indonesia.

“Jadi, seringkali ketika kita diajak datang ke negara mitra dagang, terutama nontradisional, barang yang kita bawa tidak cocok dengan yang mereka butuhkan. Bahkan, ada pula ketika kita datang, produsen di negara tujuan juga memproduksinya,” jelas dia.

Alhasil, sebutnya, misi dagang yang dilakukan Indonesia dampaknya sangat terbatas terhadap peningkatan ekspor.

Dia berharap, ketika Indonesia menggelar misi dagang ke negara nontradisional, pemerintah juga sudah menyiapkan skema pembiayaan ekspor yang sesuai dengan karakter negara tujuan.

Pasalnya, Benny melihat keberlanjutan transaksi perdagangan pascamisi dagang terhenti karena tidak tersedianya lembaga atau skema pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan eksportir RI.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menilai, pemerintah kerap gagal memanfaatkan tim intelijen bisnisnya untuk menganalisis potensi pasar di negara tujuan.

Akibatnya, misi dagang sering tampak seperti transaksi perdagangan yang hanya terjalin ketika melakukan kunjungan.

“Perwakilan dagang kita di luar negeri seharusnya menjadi ujung tombak ketika melakukan penetrasi pasar. Langkah ini dilakukan secara maksimal oleh China selama ini, dan terbukti efektif,” ujarnya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Arlinda mengatakan, tahun ini Kemendag menargetkan misi dagang ke 10 negara a.l. Amerika Serikat yang telah dilakukan pada awal bulan ini, Korea Selatan pada 19 Februari, dan India pada 22 Februari. Selanjutnya, negara-negara yang akan dituju adalah di kawasan Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah.

“Tahun ini kami targetkan 10 negara. Pada tahun lalu sebenarnya targetnya juga 10 negara, hanya saja pada perkembangannya kami akhirnya menambah tiga negara untuk dikunjungi. Tahun ini, fokus kami ke negara-negara nontradisional yang belum sempat dikunjungi tahun lalu.”

Dia melanjutkan, target yang moderat dalam misi dagang tahun ini salah satunya disebabkan oleh proyeksi pelemahan ekonomi dan volume dagang global. Untuk itu, menurutnya, otoritas perdagangan bakal lebih selektif dalam memilih negara tujuan misi dagang. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

misi dagang
Editor : Wike Dita Herlinda

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top