Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fact or Fake: Solar B20 lebih Irit dan Sempurna Pembakarannya dibanding Solar Biasa

Solar B-20 lebih irit dan  memiliki performa pembakaran yang lebih bagus dibanding Solar biasa, karena memiliki angka Cetane (CN) 50, sedangkan angka CN Solar biasa hanya 48.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  15:41 WIB
Ilustrasi bahan bakar Biodiesel B20 - Reuters/Mike Blake
Ilustrasi bahan bakar Biodiesel B20 - Reuters/Mike Blake

Bisnis.com, PALEMBANG—Solar B20 lebih irit dan  memiliki performa pembakaran yang lebih bagus dibanding Solar biasa, karena memiliki angka Cetane (CN) 50, sedangkan angka CN Solar biasa hanya 48.

Solar B20 adalah bahan bakar solar dengan campuran antara 80% solar murni dengan 20% minyak sawit .  Salah kilang PT Pertamian yang mulai memproduksi Solar B20 adalah Refinery Unit III PT Pertamina di Plaju Palembang, Sumatra Selatan. Solar B20 diklaim mempunyai performa pembakaran yang lebih bagus dibandingkan solar biasa.

Solar B20 adalah solar murni yang dicampur dengan minyak nabati FAME (fatty acid methyl ester). Campuran FAME sebanyak 20% ke dalam produk solar dapat memberikan potensi perbaikan performa bahan bakar.

Hendrix Eko Verbriono, Pjs GM Marketing Operation Region (MOR) II Sumbagsel PT Pertamina, mengungkapkan keunggulan Solar B20 adalah memiliki Cetane number di atas 50 yang artinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan Cetane number Solar murni yakni 48. 

"Semakin tinggi angka Cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan," ujarnya, melalui siaran pers PT Pertamina Refinary Unit III, Kamis (24/1/2019).

Cetane (CN) adalah indikator kecepatan pembakaran, angka CN yang lebih rendah membutuhkan waktu lebih banyak untuk pembakaran, sehingga menjadi lebih boros dibandingkan dengan solar dengan CN yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, Solar B20 dengan CN 50 lebih irit konsumsinya karena waktu pembakarannya lebih pendek dari Solar biasa dengan CN hanya 48.  

Hendrix menjelaskan kerapatan energi per volume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk diesel tersebut.

Salah satu unti penyulingan PT Pertamina yang mulai memproduksi Solar B20 adalah Refinary III PT Pertamina di Plaju, Palembang.

FAME dari minyak sawit

Yosua I. M Nababan, General Maanger Refianry Unit III Plaju, mengatakan telah melakukan improvement baik dari segi sarfas penerimaan minyak nabati (fatty acid methyl ester/FAME) maupun produksi B20 dalam tempo yang cukup cepat.  

"Launching biosolar ini menunjukkan bahwa Pertamina Refinery Unit III Plaju siap mendukung program Pemerintah dan memenuhi security of supply khususnya di daerah Sumbagsel," katanya.

Yosua menambahykan pihaknya juga melakukan sinergi bersama dengan Marketing Operation Region II Sumbagsel untuk melakukan produksi dan menyalurkan Bahan Bakar Ramah Lingkungan kepada masyarakat.

Dia memaparkan Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30.000—40 .000 kilo liter per bulan. 

FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui  rumah pompa minyak (RPM) Fuel di area storage tanki untuk dilakukan blending Solar sebagai B-20.

"Selanjutnya produk akan dilifting melalui sarfas existing baik via kapal maupun pipeline ke TBBM wilayah Sumsel dan Lampung," ujarnya.

Penerapan Bahan Bakar Ramah Lingkungan ini tentunya juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara. 

Melalui pemanfaatan Minyak Sawit ini, selain menyejahterakan Petani Sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dari Business as Usual (BAU) pada tahun 2030. 

RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B20 untuk Provinsi Sumsel dan Lampung sebanyak 3.500 - 5.000 kiloliter per hari. 

Saat ini secara reguler dapat dipenuhi seluruhnya dari RU III Plaju yang mampu menghasilkan Biosolar (B20) 180.000-200.000 KL per bulan. 

"Ini merupakan bagian dari upaya Pertamina menjamin ketahanan stok BBM ramah lingkungan di pasaran," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Fact or Fake Mandatori B20
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top