Badan Geologi: Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tak Berpotensi Timbulkan Tsunami

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar mengatakan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak perlu dikhawatirkan. Fase erupsi Anak Krakatau tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 02 Januari 2019  |  17:04 WIB
Badan Geologi: Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tak Berpotensi Timbulkan Tsunami
Prajurit KRI Torani 860 mengamati aktivitas Gunung Anak Krakatau saat erupsi di Perairan Selat Sunda, Jumat (28/12/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar mengatakan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak perlu dikhawatirkan.  Fase erupsi Anak Krakatau tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
"Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih Siaga (level III) dan erupsi masih terjadi sehingga masih terdapat ancaman berupa lontaran material letusan, sehingga direkomendasikan untuk tidak mendekat dalam radius 5 kilometer dari kawah, yaitu di dalam area yang dibatasi oleh Pulau Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang. Status Siaga ini hanya berlaku untuk aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau," ujar Rudy melalui keterangan tertulisnya, Rabu (2/1/2019).
Rudi juga menjelaskan bahwa tidak ada potensi terjadinya tsunami dari aktivitas vulkanik Anak Krakatau tersebut.
"Berdasarkan analisis data yang dimiliki, Badan Geologi menyimpulkan bahwa tidak ada potensi terjadinya tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau," lanjut Rudy.
Pada 26 Desember 2018, terjadi letusan besar yang menyebabkan longsoran besar yang menghancurkan seluruh puncak Gunung Anak Krakatau sehingga tingginya yang semula 338 meter berkurang menjadi sekitar 110 meter di atas permukaan laut. Runtuhnya seluruh puncak dan sebagian besar tubuh tersebut tidak menimbulkan tsunami.
"Adapun yang disinyalir sebagai adanya retakan di lereng Gunung Anak Krakatau, hal itu merupakan sisa-sisa dari proses runtuhan yang disebabkan letusan 26 Desember 2018, dan itu adalah hal yang wajar di dalam letusan gunung api. Tidak perlu dikhawatirkan," kata Rudy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gunung Anak Krakatau

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top