Diprediksi Terus Tumbuh, Ini Tantangan E-Commerce Indonesia

Kendati menunjukkan tren positif, pegiat bisnis e-commerce harus mengantisipasi sejumlah tantangan dalam perkembangan bisnis ini.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 November 2018  |  19:10 WIB
Diprediksi Terus Tumbuh, Ini Tantangan E-Commerce Indonesia
Ilustrasi E/commerce

Bisnis.com, JAKARTA - Riset terbaru Google dan Temasek dalam laporan e-Conomy SEA 2018 menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia tahun ini mencapai US$27 miliar atau sekitar Rp391 triliun.

Angka tersebut menjadikan transaksi ekonomi digital Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dengan kontribusi 49%.

Berdasar riset tersebut, sektor e-commerce memberi kontribusi terbesar dengan nilai transaksi mencapai US$12 miliar, naik 94% dibanding tahun 2015 yang hanya menyerap US$1,7 miliar.

Selain e-commerce, sektor lain seperti online media, online travel, dan layanan jasa kendaraan (ride hailing) juga memberi sumbangsih besar dalam pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Pada tahun 2025, Google dan Temasek memprediksi nilai ekonomi digital Indonesia dapat mencapai nilai US$100 miliar atau Rp1.400 triliun.

Kendati terus menunjukkan performa yang positif, perkembangan sektor e-commerce Indonesia tidak terlepas dari sejumlah tantangan.

Jemy V. Confindo, CEO Blanja.com menilai terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi pebisnis e-commerce, salah satunya adalah aspek konsumen.

"Dunia e-commerce berhadapan dengan konsumen yang 79% di antaranya memilih produk dengan harga lebih murah, berikutnya 42% memilih barang dengan diskon, jadi sebenarnya bisnis e-commerce juga sulit untuk memperoleh keutungan," kata Jemy di Jakarta dalam diskusi Media Industry Outlook 2019 pada Rabu (27/11/2018).

Tantangan lain adalah tren belanja daring seperti model Omni-Channel yang merupakan kombinasi dari sejumlah cara dan channel untuk berbelanja.

"Sekarang sudah ada kombinasi online dan offline, yang memungkinkan konsumen melakukan pembelian di mana saja, tapi barang harus sampai sesuai waktu yang diinginkan," jelas Jemy.

Jemy juga menilai aspek rating atau tingkat kepercayaan konsumen juga menjadi tantangan besar mengingat di era digital, masyarakat dapat dengan lebih mudah melihat performa suatu peritel.

Persoalan penetrasi internet di Indonesia, sambung Jemy, juga menjadi kendala. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan pada tahun 2017, konsentrasi penetrasi pengguna internet masih berada di area urban dengan presentase 72,41%.

Di area rural urban, tingkat penetrasi hanya mencapai 48,25%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bisnis online, e-commerce

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup