Janata Marina Mengeluh Penyerahan Kapal Tol Laut Terkatung-katung

PT Janata Marina Indah mengeluhkan pemerintah yang tidak kunjung mengambil kapal pesanan untuk program tol laut dan kapal perintis. Akibatnya, likuiditas perusahaan terganggu.
Sri Mas Sari | 09 November 2018 00:18 WIB
Kapal tol laut Mutiara Persada III siap bergerak dari Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, ke Tanjung Priok, Jakarta - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Janata Marina Indah mengeluhkan pemerintah yang tidak kunjung mengambil kapal pesanan untuk program tol laut dan kapal perintis. Akibatnya, likuiditas perusahaan terganggu.

Presiden Direktur PT Janata Marina Indah (JMI) Joeswanto Karijodimedjo mengatakan empat unit kapal senilai Rp326 miliar yang dibangun di galangan perseroan di Semarang hingga kini belum diambil Kementerian Perhubungan. Padahal, JMI sudah siap menyerahkannya kepada operator di pelabuhan pangkalan yang sudah ditentukan.

Serah terima yang terkatung-katung itu membuat JMI belum menerima sisa pembayaran kontrak sekitar Rp15 miliar yang semestinya dapat dipakai perusahaan untuk membayar sebagian pinjaman modal kerja kepada bank. 

"Bahkan, kami yang sebelumnya likuid dan mendapat predikat call 1 dari Bank Indonesia, karena tidak dapat membayar bunga dan angsuran pokok yang jatuh tempo, statusnya turun drastis menjadi call 5," ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (8/11/2018).

Di sisi lain, JMI harus memperpanjang premi asuransi yang menjadi tanggungan perusahaan selama kapal masih berada di galangan. Belum lagi biaya penjagaan kapal, seperti pembelian bahan bakar generator untuk menghidupkan lampu-lampu kapal selama 24 jam.  

JMI juga harus mengalokasikan biaya perawatan selama kapal belum diserahkan. Perusahaan terpaksa menaikkan empat kapal pesanan itu ke dok untuk dirawat agar kondisinya mulus dan kecepatannya melebihi persyaratan saat diserahkan ke pemerintah. 

"Kami tidak bisa cuek begitu saja, lempar saja ke laut, lego jangkar di sana. Itu tanggung jawab kami sebelum kami menyerahkan kapal. Kami rawat," tutur Joeswanto.

JMI tahun ini mengerjakan empat unit kapal yang dipesan Kemenhub. Satu unit kapal berukuran 1.200 gros ton (GT) akan diserahkan kepada operator PT Pelni (Persero) di pelabuhan pangkalan Surabaya. Dua unit kapal berukuran masing-masing 2.000 GT juga siap diserahkan kepada Pelni di pelabuhan pangkalan Ambon. Berikutnya, 1 unit kapal kontainer berkapasitas 100 TEUs segera diserahkan kepada PT Djakarta Lloyd di pelabuhan pangkalan Makassar. 

Joeswanto berharap pemerintah segera menemukan solusi atas kondisi yang merugikan galangan kapal dan industri penunjangnya itu. "Tentunya ini menjadi tanggung jawab Kemenhub yang memberi order pembangunan kapal kepada perusahaan galangan," katanya. 

Tag : Tol Laut
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top