Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

GINSI Keluhkan Survei Peti Kemas di Pelabuhan Tak Transparan

Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia menyoroti tidak transparannya kegiatan survei kondisi peti kemas di lapangan penumpukan atau container yard (CY) terminal peti kemas pelabuhan dan di fasilitas depo peti kemas empty eks impor.
Akhmad Mabrori
Akhmad Mabrori - Bisnis.com 31 Oktober 2018  |  16:46 WIB
GINSI Keluhkan Survei Peti Kemas di Pelabuhan Tak Transparan
Petugas memantau pemindahan kontainer ke atas kapal di New Priok Container Terminal One (NPCT 1), Jakarta, Senin (12/3/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menyoroti tidak transparannya kegiatan survei kondisi peti kemas di lapangan penumpukan atau container yard (CY) terminal peti kemas pelabuhan dan di fasilitas depo peti kemas empty eks impor.

Ketua Badan Pengurus Daerah GINSI DKI Jakarta Subandi mengatakan surveyi kondisi peti kemas eks impor yang dilakukan di depo maupun di CY tidak melibatkan surveyor independen sehingga berpotensi mengalihkan tanggung jawab jika terjadi kerusakan.

“Akibatnya berpotensi terjadi pengalihan tanggung jawab kepada importir atas biaya perbaikan peti kemas eks impor yang tidak terukur," ujarnya saat sosialisasi dan coaching clinic Online Single Submission (OSS) di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Acara coaching clinic tersebut dihadiri ratusan perusahaan importir anggota GINSI, stakeholder terkait di Pelabuhan Tanjung Priok serta asosiasi penyedia dan pengguna jasa pelabuhan, dan manajemen terminal peti kemas ekspor impor di pelabuhan.

Subandi menjelaskan biaya logistik yang tinggi merupakan penyebab utama tingginya harga barang yang berdampak langsung terhadap penurunan daya beli konsumen sekaligus menghambat laju perekonomian nasional.

“Transparansi proses survei kondisi peti kemas eks impor itu sebagai barometer dalam upaya menekan biaya logistik kepelabuhanan," ucapnya.

Menurutnya, salah satu komponen biaya logistik impor yang kurang mendapat sorotan adalah biaya yang ditimbulkan oleh klaim atas kerusakan peti kemas eks impor, termasuk washing dan cleaning peti kemas di depo empty.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peti kemas
Editor : Hendra Wibawa
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top