Pasar Induk Cipinang Minta Bulog Guyur Beras Medium

Pasar Induk beras Cipinang mengajukan pengguyuran beras medium dari Bulog guna menstabilkan harga beras yang sat ini tengah terkerek.
Juli Etha Ramaida Manalu | 30 Oktober 2018 20:40 WIB
Pekerja memindahkan karung berisi beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (19/1). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA— Pasar Induk beras Cipinang mengajukan pengguyuran beras medium dari Bulog guna menstabilkan harga beras yang sat ini tengah terkerek.

Direktur Utama Food Station Arief Prasetyo menyebutkan stok beras saat ini sebenarnya aman. Namun, tetap saja harganya terkerek naik lantaran stok PIBC didominasi beras berkualitas baik atau premium.

“Kalau Jakarta, Pasar Induk Beras Cipinang sampai Maret kalau saya hitung cuma perlu 100.000 ton [beras medium] paling banyak. Bisa [diguyur] 5.000-6.000 ton seminggu. Kalau harga sudah kembali baik distop dulu, yang penting [harga] nggak tinggi,” jelasnya, Selasa (30/10/2018).

Arief menjelaskan, tingginya pasokan beras premium yang mengerek harga beras di PIBC lantaran kualitas panen memang bagus. Suplai dari lapangan pada Oktober, November, Desember biasanya memang tidak sebanyak suplai di awal tahun tetapi kualitasnya lebih baik karena dipanen pada saat musim kemarau.

Adapun beras yang dipanen pada awal tahun nanti akan  lebih banyak tetapi dengan kualitas lebih rendah karena musim hujan. “Jadi, ini November hingga Desember nanti yang lebih banyak berasnya premiumk karena itu kan kemarin musim kemarau jadi beras kualitas lebih baik, kadar airnya sangat baik karena panasnya cukup. Nah, nanti di Mei April kebalikannya,” jelasnya.

Dengan adanya guyuran dari Bulog nanti, dia berharap harga di pasar bisa mencapai harga eceran tertingi (HET) Rp9.450 per kilogram dengan harga keluar dari gudang Bulog Rp8.100.

Arief mengatakan, pihaknya telah menginformasikan terkait kebutuhan guyuran beras oleh Bulog ini Dinas Koperasi UKM serta Perdagangan DKI Jakarta untuk diteruskan ke Gubernur Anies Baswedan yang akan menindaklanjuti dengan menyurati Menteri Perdagangan.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendriadi. Dia menjelaskan, memang ada masa di mana jumlah beras premium jauh melebihi medium. Menurutnya, jumlah varietas beras medium saat ini hanya ada dua yakni IR64 III dan Muncul 3 dengan berbagai jenis varietas beras premium. Oleh karena itu, jumlah beras premium yang ada saat ini mendominasi hingga 80% sementara medum hanya 20%. “[Beras medium] yang diperdagangkan sekarang hanya ada dua jenis,” katanya.

Berdasarkan catatannya, pada 2014 komposisi beras premium hanya mencapai 35% lantaran saat itu ada sekitar 7 jenis varietas beras medium. Hal sebaliknya terjadi pada 2015 di mana varietas beras medium hanya tinggal 4 jenis. Pada 2017, komposisi beras premium kembali meningkat jadi 70% dengan varietas medium hanya tinggal 3 jenis. Hal yang sama juga terjadi pada 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bulog, stok beras

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top