Kementan: Data Beras BPS Masih Perlu Validitas Tambahan

Kementerian Pertanian menilai metode penghitungan baru yang dilakukan Badan Pusat Statistik masih membutuhkan validitas tambahan.
Pandu Gumilar | 25 Oktober 2018 19:08 WIB
Pekerja membersihkan gudang beras Bulog Divre Sulselbar di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6/2016). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian menilai metode penghitungan baru yang dilakukan Badan Pusat Statistik masih membutuhkan validitas tambahan.

Direktur Serelia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Bambang Sugiharto menyatakan sebaiknya tidak langsung menerima metode baru estimasi tersebut sebagai suatu kebenaran mutlak.  Pasalnya, validitas metode tersebut tetap harus diuji.  

Bambang menilai masih ada beberapa faktor kritis yang masih perlu diuji walaupun data dasar yang digunakan telah menggunakan teknologi satelit. 

Pertama, BPS belum melihat deliniasi polygon lahan sawah yang dipetakan dan mencocokkan dengan kondsi lapangan. “Kedua kita juga menilai ada hal yang kurang logis dari hasil perhitungan metode baru ini,” katanya pada Kamis (25/10) dalam siaran resmi.

Pada metode baru BPS memperkirakan Indonesia hanya surplus 2,85 juta ton pada 2018.  Menurut Bambang, angka ini dinilai terlalu menganggap rendah atau underestimate. “Jika surplus beras dihitung dari cadangan yang dipegang Bulog dan cadangan beras di masyarakat, maka perhitungan surplus ini menjadi kurang  masuk akal,” tegasnya.

Bambang menjelaskan Perum Bulog sampai bulan Oktober sudah menyerap beras dalam negeri sebesar 1,5 juta ton.  Dari jumlah tersebut 700.000 ton sudah dipakai untuk beras rastra, operasi pasar dan bantuan bencana alam.  

Sementara  itu, sisa cadangan beras pengadaan dalam negeri sekarang sekitar 800.000 ton.  Selain beras tersebut, Bulog juga memegang cadangan beras kelas premium sebesar 150.000 ton. 

Bambang menjelaskan dari pengadaan beras dalam negeri  bulog saat ini memegang sekitar 950.000 ton.  Oleh sebab itu bila BPS menyebutkan angka surplus beras hanya 2,85 juta ton, maka cadangan beras yang berada di masyarakat atau rumah tangga hanya 1,9 juta ton.   

Dengan asumsi tersebut Bambang menjelaskan, jumlah rumah tangga di Indonesia sebesar 100 juta KK maka cadangan surplus beras yang di rumah tangga hanya 19 kg/KK/tahun. “[Surplus] ini tidak masuk akal, tahun 2015 kalau tak salah BPS telah melakukan survey surplus beras di rumah tangga mencapai 7,5 kg/bulan atau 90 kg/tahun”, jelasnya.

Tag : produksi beras
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top