Ini Kesiapan Perusahaan Singapura dalam Revolusi Industri 4.0

Enterprise Singapore dan Singapore Standards Council, hari ini, Selasa (16/10/2018), meluncurkan Standards Mapping for Singapore Smart Industry Readiness Index (SmS) untuk membantu kesiapan perusahaan-perusahaan di Singapura memasuki era Industri 4.0.
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 16 Oktober 2018  |  12:54 WIB
Ini Kesiapan Perusahaan Singapura dalam Revolusi Industri 4.0
Suasana di salah satu manufaktur yang ada di Singapura. - .Reuters

Bisnis.com, SINGAPURA — Enterprise Singapore dan Singapore Standards Council, hari ini, Selasa (16/10/2018), meluncurkan Standards Mapping for Singapore Smart Industry Readiness Index (SmS) untuk membantu kesiapan perusahaan-perusahaan di Singapura memasuki era Industri 4.0.

Enterprise Singapore, yang merupakan badan pemerintah di bawah Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura melibatkan para ahli dari Manufacturing Standards Committee dan 11 institusi, diantaranya TUV SUD, penyedia jasa teknik dunia asal Jerman, National University of Singapore, dan Asia Productivity organization.

Indikator utama SmS ada delapan pilar, yaitu operations, supply chain, product lifecycle, automation, connectivity, intelligence, structure & management, dan talent readiness. Indikator SmS juga mencakup 60 standar lain yang dapat membantu perusahaan mengadopsi smart manufacturing, robotics, automation dan cybersecurity.

Deputi Perdana Menteri dan Menteri Koordinator bidang Ekonomi dan Kebijakan Sosial Tharman Shanmugaratnam menyatakan SmS dapat membantu perusahaan-perusahaan di Singapura untuk mengidentifikasi standar dan kebutuhan industri dalam revolusi industri 4.0.

Standar yang dimaksud, diantaranya bagaimana mengisi peluang pasar dan mengantisipasi tren pertumbuhan, mendorong produktivitas, mengoptimalkan sumber daya secara efisien, dan mendukung standar keamanan dan kebutuhan sosial.

“Industri 4.0 adalah peluang dan bukan untuk ditakuti karena itu indeks ini terus akan diperbarui secara berkala,” ujarnya, saat membuka pameran Industrial Transformation Asia Pacific 2018, Selasa (16/10/2018).

Adapun perincian delapan pilar utama, yaitu pertama sistem operasi, di mana perusahaan dapat membuat standardisasi dari berbagai sistem berbeda, dari berbagai vendors yang berbeda, agar dapat bekerja sama dalam satu sistem operasi. Perusahaan juga dituntut untuk mengurangi konsumsi energi dalam operasional.

Kedua, yaitu rantai suplai, perusahaan diharapkan dapat mengembangkan proses dan prosedur untuk menjaga keamanan dan kontinuitas bisnis dari operasional rantai suplai.

Ketiga, menyangkut product lifecycle, perusahaan diharapkan dapat melakukan transfer informasi secara mudah dan jelas dalam setiap tahapan manufaktur, misalnya dari mulai desain hingga pengujian prototipe.

Keempat, yaitu otomatisasi, perusahaan diharapkan dapat mengaplikasikan kolaborasi teknologi baru dan robot secara aman dan kelima, konektivitas, membantu perusahaan-perusahaan untuk mengoptimalkan jaringan komunikasi, terutama dalam operasional keamanan siber.

Adapun, keenam, yaitu intelligence, perusahaan diharapkan dapat menggunakan data-data teknis mesin untuk memperbaiki proses demi meningkatkan produktivitas.

Pilar ketujuh, yaitu struktur dan manajemen, perusahaan diharapkan dapat mengembangkan proses dan prosedur untuk mengatasi persoalan kualitas hingga keamanan dalam organisasi entitas bisnis. Kedelapan, talent readiness, perusahaan diharapkan dapat mengelola dan mengoptimalkan tenaga kerja.

Direktur Startup & Global Innovation Alliance Enterprise Singapore Jonathan Lim menegaskan Singapura akan dijadikan sebagai pintu gerbang bagi perusahaan-perusahaan di dunia untuk memasuki pasar Asia. “Makanya kami harus siap dalam era industri 4.0,” katanya, hari ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi singapura

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top