Dolar Menguat, Kemendag Yakin Target Ekspor Nonmigas Tahun Ini Tercapai

Kementerian Perdagangan mengklaim penguatan dolar sudah dapat dimanfaatkan pelaku usaha berbasis ekspor, dan optimistis target pertumbuhan ekspor nonmigas 11% dapat dicapai.
M. Richard | 03 Oktober 2018 17:34 WIB
KM Gunung tengah melakukan bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal buatan galangan Meyer Werft, Jerman ini bisa mengangkut 98 TEUs kontainer di samping mengangkut penumpang. JIBI - Rivki Maulana

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan mengklaim penguatan dolar sudah dapat dimanfaatkan pelaku usaha berbasis ekspor, dan optimistis target pertumbuhan ekspor nonmigas 11% dapat dicapai.

Menteri Perdagangan Enggartiasto mengatakan ekspor nonmigas bulan Agustus 2018 tercatat sebesar US$ 14,43 miliar, atau meningkat 3,43% dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya (YoY). 

Dengan nilai impor nonmigas sebesar US$13,79 miliar, maka neraca perdagangan nonmigas Indonesia pada periode Agustus 2018 mencatat surplus sebesar US$639,60 juta. 

"Artinya, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) memberi insentif secara tidak langsung bagi eksportir untukmeningkatkan volume ekspor mereka. Sehingga, neraca perdagangan nonmigas masih terjaga tetap surplus meski terdapat tekanan di sisi yang lain,” ujarnya seperti dikutip dari pres rilis Kemendag, Rabu (3/10/2018).

Mendag melanjutkan, secara kumulatif ekspor nonmigas Januari–Agustus 2018 mencapai US$108,69 miliar. Nilai ini tumbuh 10% dibanding periode yang sama tahun 2017 (YoY) yang senilai US$98,79 miliar. 

Oleh sebab itu, meski terdapat kontraksi perdagangan di awal paruh kedua tahun ini., dirinya optimistis target pertumbuhan masih dapat dicapai.

Adapun, beberapa komoditas utama ekspor nonmigas yang berkontribusi terbesar terhadap peningkatan ekspor Januari–Agustus 2018 adalah bijih, kerak, dan abu logam (HS 26); besi dan baja (HS 72); berbagai produk kimia (HS 38); bahan bakar mineral (HS 27) dan kertas/karton (HS 48).

Kenaikan ekspor beberapa komoditas tersebut disebabkan penguatan harga ekspor. Adapun, menguatnya harga ekspor terindikasi dari kenaikan nilai ekspor yang lebih besar dari kenaikan volumenya. 

Selain karena pengutan nilai tukar US$ target ekspor ke beberapa negara tradisional diprediksi meningkat. Beberapa negara a.l. China mengalami pertumbuhan ekspor nonmigas pada periode Januari–Agustus 2018 sebesar 30,63% (YoY), Jepang 20,39%, dan Korea Selatan 15,57%. 

"Naiknya ekspor ke negara-negara ini didukung oleh peningkatan permintaan pasar dalam negeri mereka, yaitu sebagai respon langsung atas penguatan nilai dolar US$," katanya.

Di sisi lain, Enggar mengatakan, impor juga sudah mulai menunjukkan perlambatan. Total impor bulan Agustus 2018 mencapai US$16,84 miliar, atau turun 8,0% dari Juli 2018 (MoM) yang sebesar US$18,29 miliar.

Meski demikian, Enggar mengakui secara kumulatif total impor Januari–Agustus 2018 mencapai US$124,19 miliar, atau naik 24,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya. 

"Peningkatan nilai impor tersebut didorong oleh kenaikan impor seluruh klasifikasi barang, mulai dari barang modal naik 29,2%, bahan baku/penolong naik 23,2%, serta barang konsumsi naik 27,4%," tuturnya.



Tag : depresiasi rupiah
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top