Kolaborasi ADHI, WIKA, JKON & Jakpro Bidik Proyek Kereta

Emiten konstruksi berkode saham ADHI, PT Adhi Karya Tbk. tengah membahas rencana inisiasi pembangunan proyek kereta terintegrasi lainnya di sekitar Jakarta bersama tiga badan usaha konstruksi.
Irene Agustine | 02 Oktober 2018 19:23 WIB
Penampakan Kereta LRT DKI yang masih tersegel - Feni Freycinetia

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten konstruksi berkode saham ADHI, PT Adhi Karya Tbk. tengah membahas rencana inisiasi pembangunan proyek kereta terintegrasi lainnya di sekitar Jakarta bersama tiga badan usaha konstruksi.

Ketiga badan usaha konstruksi tersebut yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk. (JKON), dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

Sebelumnya, ADHI, WIKA, dan JKON diketahui sudah mengusulkan pembangunan jaringan kereta loop line DKI Jakarta sepanjang 26 kilometer yang diestimasi memiliki nilai investasi Rp12 triliun—Rp15 triliun kepada pemerintah.

Direktur Utama ADHI Budi Harto mengatakan bahwa rencana pembangunan proyek kereta terintegrasi masih dalam pembahasan tahap awal bersama tiga badan usaha lainnya.

Dia menjelaskan bahwa konsep proyek ini nantinya menyasar lingkar luar daerah DKI Jakarta, tetapi akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya seperti kereta ringan (light rail transit/LRT), moda raya terpadu (mass rapid transit/MRT) dan KRL Commuter Line.

“Kalau loop line tadi kan di tengah rutenya. Nah, ini di bagian luar. Kalau jaringan jalan tol, ada JORR [Jakarta Outer Ring Road] I dan JORR II ini sejenis itu,” kata Budi, di sela acara Dialog Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), Selasa (2/10/2018).

Dia mengatakan bahwa wacana pembangunan proyek kereta terintegrasi tersebut bertujuan memberi alternatif transportasi yang nyaman kepada warga di sekitar Jakarta yang selama ini berkutat dengan kemacetan.

Selain itu, tuturnya, kota-kota besar di dunia saat ini sudah mengandalkan sistem transportasi rel yang massif.

Saat ini, proses rencana tersebut masih dikaji lebih lanjut oleh calon pemrakarsa. Adapun, ADHI juga sudah sempat membahas wacana tersebut dengan pemerintah secara informal.

Budi mengemukakan bahwa skema pembangunan pun masih dibahas dan sangat terbuka dibangun secara kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).

Pada proyek KPBU, pemerintah akan memiliki bagian tertentu dalam pembangunan, misalnya, dengan menanggung pembebasan lahan atau membangun langsung proyek dengan dana dukungan pemerintah.

Saat ini progres usulan pembangunan loop line atau kereta layang DKI Jakarta masih dikaji oleh pemerintah.

Rencananya, proyek tersebut dibangun melingkar (berbentuk lingkaran) di rute pemberhentian utama seperti Manggarai, Tanah Abang, Duri yang selama ini selalu padat karena sebagai pintu untuk menuju tempat tinggal pengguna jasa di Bekasi, Depok, dan Tangerang.

Rute awal yang diusulkan untuk proyek tersebut adalah jalur layang Manggarai—Tanah abang—Duri—Kampung Bandan—Kemayoran—Manggarai.

Rencananya, ada sedikitnya 15 stasiun yang akan dibangun berdekatan dengan stasiun yang sudah ada Kereta Commuter Line yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia saat ini.

ADHI mengharapkan kejelasan mengenai pemrakarsa proyek loop line sudah dapat diketahui pada tahun ini. BUMN itu sudah bersiap menggelontorkan dana Rp5 triliun untuk mendanai rencana investasi sejumlah proyek prakarsa perseroan hingga awal tahun depan.

Selain proyek loop line Jakarta, dua proyek lainnya yang akan dikerjakan ADHI adalah Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karian berkapasitas 3.200 liter/detik dan pembangunan ruas tol Solo—Yogyakarta—Kulonprogo sepanjang 91,93 kilometer.

Tag : adhi karya, wika, jakpro, LRT
Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top