Perkembangan Ekonomi AS dan Eropa Akan Jadi Sentimen Pasar Pekan Ini

Beberapa sentimen global sepanjang pekan ini diperkirakan dapat mencuri perhatian investor yang baru kembali dari liburan musim panas, mulai dari peresmian tarif impor dari AS untuk China hingga isu proposal Brexit yang diminta untuk dirombak.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 03 September 2018  |  19:12 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Beberapa sentimen global sepanjang pekan ini diperkirakan dapat mencuri perhatian investor yang baru kembali dari liburan musim panas, mulai dari peresmian tarif impor dari AS untuk China hingga isu proposal Brexit yang diminta untuk dirombak.

Adapun, kampanye ‘Kembalikan Kejayaan Amerika’ milik Presiden Donald Trump dikhawatirkan dapat merusak keyakinan investasi di beberapa negara seiring dengan pemberlakuan tarif untuk produk impor asal China pada Rabu (5/9).

Dengan berakhirnya masa konsultasi publik, AS secara resmi akan memberlakukan tarif lanjutan sebesar 25% untuk produk impor asal China yang senilai US$200 miliar.

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan AS juga akan semakin memberikan tekanan kepada negara ekonomi pasar berkembang. Sejauh ini, masalah pelemahan mata uang telah mengancam Argentina dan Turki terseret ke ambang krisis.

Adapun, data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan bakal membuktikan bahwa kebijakan proteksionisme telah berdampak di Asia dan Eropa, sehingga kekhawatiran terhadap isu perdagangan bakal semakin meningkat.

Sementara itu, para pembuat kebijakan di Inggris juga akan kembali ke Parlemen. Partai Konservatif diperkirakan bakal kembali menekan PM Inggris Theresa May untuk merombak proposal Brexit seiring dengan pembicaraan dengan Brussels semakin mendekat.

Masalah perdagangan dan politik tersebut diperkirakan dapat memengaruhi pergerakan ekonomi global ke depannya. Padahal, pertumbuhan ekonomi global ke level sekitar 4% pada tahun ini telah menaikkan harapan ke tengah-tengah investor bahwa sisa-sisa krisis keuangan sejak Lehman Brothers bangkrut pada 10 tahun silam telah hilang sepenuhnya.

Lucy O'Carroll, Kepala Ekonom Aberdeen Standard Investments mengatakan bahwa perusahaannya telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global, yakni akan melambat menjadi 3,2% pada 2020 dari 3,8% pada tahun ini.

Perkiraan tersebut pun dipercaya dapat mengurangi laju pengetatan moneter dari bank sentral utama di dunia. Di sisi lain, negara-negara di emerging market diperkirakan bakal tetap tertekan untuk menaikkan suku bunga sebagai upaya menghambat laju arus modal keluar  dan untuk menjaga performa mata uangnya.

Alhasil, pola pertumbuhan ekonomi yang tidak merata di seluruh dunia akan semakin parah.

"Namun demikian, hal ini belum pasti menjadi yang terburuk. Kami tidak memperkirakan ekonomi dunia akan resesi dalam beberapa tahun ke depan. Pertumbuhannya hanya akan melambat dari yang kita lihat pada 2017 dan 2018," katanya, seperti dikutip Reuters, Senin (3/9).

Sementara itu, di AS, di mana pemangkasan pajak dari Pemerintah AS berhasil menggairahkan perekonomian melampaui negara-negara lain, beberapa ekonom percaya bahwa pertumbuhan ekonomi AS kini telah berada di puncaknya.

Gubernur Fed wilayah St. Louis James Bullard mengingatkan bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve) harus menahan laju kenaikan suku bunga karena potensi perlambatan ekonomi pada tahun depan dapat berisiko menekan laju inflasi.

Untuk saat ini, ekonomi AS tampaknya dapat membantu mempertahankan elektabilitas Partai Republik menjelang Pemilu Kongres pada November. Pasalnya, Trump dapat memberitahu pendukungnya bahwa dia telah berada di dalam jalur merealisasikan janjinya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi AS secara tahunan pada tahun ini sebesar 3%.

"AS telah berada di jalur yang lebih kuat ketimbang negara lain karena stimulus masif dari paket pajak dan pengeluaran pemerintah yang mulai meningkat," kata Christoph Balz, ekonom di Commerzbank.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sentimen pasar

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top