Target Serapan Gabah 2018 Direvisi

Pemerintah mengoreksi target serapan gabah dalam negeri pada 2018 menjadi 2,5 juta ton atau turun 200.000 ton dari 2,7 juta ton.
Target Serapan Gabah 2018 Direvisi Pandu Gumilar | 27 Agustus 2018 16:13 WIB
Target Serapan Gabah 2018 Direvisi
Pekerja menjemur gabah di tempat pengeringan gabah di Desa Pilangrejo, Wonosalam, Demak, Jawa Tengah, Selasa (16/1/2018). - Antara/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah mengoreksi target serapan gabah dalam negeri pada 2018 menjadi 2,5 juta ton atau turun 200.000 ton dari 2,7 juta ton.

Target ambisius penyerapan gabah 2,7 juta ton ditetapkan saat rapat koordinasi pada 15 Februari 2018. Perum Bulog diwajibkan menyerap 2,2 juta ton antara Januari—Agustus dan September—Desember sebesar 500.000 ton.

Kemudian, Kepala Badan Ketahanan Pangan sekaligus Ketua I Sergap Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan target tersebut sudah diubah menjadi 2,5 juta ton.

Agung enggan menyebut alasan perubahan target, namun dia optimis target baru bisa terealisasi. “Sergap sekarang [sudah meraup] 1,4 juta ton. Kami targetkan 2,5 juta ton sampai akhir tahun Serapan tetap akan terus kita lakukan meski ada beras impor yang akan masuk, karena kalau kelebihan itu bisa dijual oleh Bulog,” katanya pada Senin(27/8/2018), setelah rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Padahal, pada rapat koordinasi antara Kementan dan Bulog pada Mei, target serapan gabah dikatakan dapat tercapai karena kedua pihak melakukan manuver baru, yakni dengan menandatangani nota kesepahaman dengan TNI untuk membantu serapan gabah dan membagikan mesin pengering supaya kualitas dapat terjaga.

Dalam waktu dekat, lanjut Agung, cadangan beras pemerintah [CBP] sebanyak 2,1 juta ton juga akan dilepas ke pasaran untuk mengintervensi harga. Alasan lainnya adalah beras tidak bisa disimpan dalam waktu lama karena dapat mengurangi kualitasnya.

“Jadi dibicarakan [pada Rakor] bagaimana proses dissposal stock. Jadi boleh dilepas tapi harus beli atau menyerap lagi. Jadi kalau lepas seratus harus beli seratus,” katanya.

Hal tersebut adalah upaya menjaga CBP supaya tetap jumlahnya dan tidak berkurang. Agung mengatakan dari hasil rakortas CBP harus dijaga tetap pada kisaran 1,5 juta ton.

“Tapi kan kita sudah punya stok 2 juta ton. Artinya boleh melepas asal tetap membeli. Dan utamakan pembelian sesuai PP no. 17 tahun 2015, jadi yang diserap adalah beras dari dalam negeri,” katanya.

Meski harga gabah saat ini rata-ratanya sudah di atas Rp4.500 per kg, Agung menyampaikan penyerapan masih memungkinkan dapat terealisasi. “Tadi juga saya sampaikan bulan oktober ada 10 juta ton. Nah yang diperlukan [atau diserap] itu 10%, jadi enggak banyak untuk cadangan beras itu,” katanya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan penyerapan tahun ini tidak bagus. Selain itu juga ada beberapa keterlambatan pengambilan keputusan dari Bulog yang menyebabkan harga naik.

Namun, Darmin mengatakan sudah memberi instruksi kepada perusahaan plat merah tersebut agar bergerak cepat.

“Kita tahu di beberapa tempat kita tau bergerak naik. Sebelum naik, semester ini ya kita minta operasi pasar. Yang harus diliat kalau perlu operasi pasar ya operasi pasar. Kalau perlu rastra dikirim, ya dikirim, bahkan tahun-tahun lalu kita percepat pengirimannya,” katanya.

Darmin juga menurutukan belum ada rencana merevisi HPP karena masih menyediakan ruang bagi fleksibilitas. Meskipun fleksibiltas 10% belum dapat menyerap harga gabah saat ini.

“Iya, memang kita 4 bulan lalu itu pernah menaikkan fleksibilitas 20%, tapi yang terjadi bukan menolong situasi, harganya malah makin naik. Jadi yang sekarang kita pertahankan, kalau di perlukan itu bisa memberikan fleksibilitas 10%” katanya.

Menurutnya petani juga tidak perlu khawatir dengan operasi pasar yang akan segera dilakukan karena itu tidak akan mengintervensi harga gabah kering petani. “Yang kita operasi pasar itu berasnya. Bukan gabahnya dan itu di pasar, bukan di desa. Jadi, yang dilakukan adalah mengembalikkan harga kalau dia naik,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gabah, produksi beras

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top