Dolly P. Pulungan: Biarkan Holding yang Mengurus Utang dan Modal Kerja

Setelah resmi terbentuk sebagai perusahaan induk atau holding perkebunan pada 2014, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) berambisi menjadi perusahaan agribisnis kelas dunia. Bisnis berkesempatan berbincang dengan Dolly P. Pulungan, Direktur Utama Holding BUMN Perkebunan, PTPN III, guna mengetahui strategi transformasi dan restrukturisasi perusahaan untuk mewujudkan visi tersebut
Dolly P. Pulungan: Biarkan Holding yang Mengurus Utang dan Modal Kerja Pandu Gumilar | 20 Agustus 2018 13:24 WIB
Dolly P. Pulungan: Biarkan Holding yang Mengurus Utang dan Modal Kerja
Prioritas program holding BUMN Perkebunan PTPN III (Persero). - Bisnis/Tutun Purnama

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah resmi terbentuk sebagai perusahaan induk atau holding perkebunan pada 2014, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) berambisi menjadi perusahaan agribisnis kelas dunia. Bisnis berkesempatan berbincang dengan Dolly P. Pulungan, Direktur Utama Holding BUMN Perkebunan, PTPN III, guna mengetahui strategi transformasi dan restrukturisasi perusahaan untuk mewujudkan visi tersebut. Berikut petikan wawancaranya:

Apa program jangka pendek yang akan Anda laksanakan?

PMN yang kami dapat Rp3,5 triliun untuk disalurkan kepada anak perusahaan yang bergerak di industri gula, itu yang paling penting. Nanti juga akan ada koordinasi lintas kementerian yaitu pertanian, perdagangan, perindustrian, dan BUMN untuk mengatur tentang beras dan gula.

Namun, ini masih menunggu dari Komisi Komisi IV DPR. Pertemuannya segera digelar, karena sepertinya beras dan gula akan dijadikan satu komoditas pangan yang disempurnakan pengelolaannya.

Bagaimana respons Anda tentang rencana pembentukan Badan Pangan Nasional?

Itu sedang menunggu PP . Dengan adanya BPN, kebijakan pangan bisa lebih sistematis. Badan itu nanti yang mengeksekusi tetap Bulog sebagai calon holding pangan. Jadi, persoalan pangan akan independen, tidak bisa merujuk pada kementerian lagi.

Ketika ditunjuk sebagai pimpinan, apa saja persoalan yang harus segera Anda tangani?

Ada problem operasional yang sudah terakumulasi tetapi mungkin kemarin belum di-exercise. Oleh karena itu, ada potensi penyelematan dulu pada semester I/2018.

Penyelamatan kredit kami kepada Bank Himbara hampir Rp15 triliun akan diselesaikan. Mereka sekarang menunggu kajian yang sedang kami buat. Nantinya level sustainability anak perusahaan bisa terukur, dan level unsustainaibility diambil oleh holding.

Bagaimana strateginya untuk mengatasi persoalan tersebut?

Untuk menjaga cashflow dari holding company, kami mau dapat pendanaan dari PINA , ada alokasi Rp23 triliun.

Dari perbankan swasta atau dari perbankan pemerintah akan kasih kredit untuk modal kerja PTPN Group, sehingga di level anak perusahaan yang bermasalah bisa dapat pendanaan working capital agar bisa tetap running bisnisnya.

Adapun, beban utangnya diambil oleh holding. Nanti holding yang refinancing pakai utang jangka panjang yang suku bunganya murah, sehingga bisa me-reduce interest.

Mengapa beban utang diambil oleh holding?

Hal itu dilakukan agar anak perusahaan bisa kumulatif profit. Nantinya, kami menarik cash flow-nya untuk membayar kewajiban bunga. Anak perusahaan juga akan memberikan kuasa kepada holding untuk menjual hasil produksinya.

Dengan demikian, mereka bisa fokus membenahi operasionalnya, dan kami memperbaiki dari sisi marketing dan finansialnya.

Dengan strategi sinergi seperti itu, PTPN yang bermasalah bisa tetap hidup. Kami hanya tinggal memikirkan less cost, margin operasional yang bagus, produksi yang bagus. Adapun mereka tidak usah pikir duit lagi, karena duit dari holding. Kami akan cari yang jangka panjang.

Apa saja yang menjadi program prioritas Anda?

Pada tahun depan, mungkin seluruh kebijakan pemasaran dan keuangan akan diserahkan kepada holding, sedangkan anak perusahaan tugasnya hanya membuat harga pokok serendah-rendahnya dan produksi yang bagus.

Sebelumnya, mereka seringkali pusing memikirkan soal uang. Program ini menjadi rencana jangka pendek kami, dan sudah harus berjalan dalam waktu dekat ini. Kami menyelamatkan persoalan keuangan dan pemasaran dulu.

Apa tujuan dari program jangka pendek ini?

Dalam program jangka pendek ini, kami harus membuat perusahaan sustain terlebih dahulu, dengan cara merestrukturisasi dengan Himbara untuk membantu kami. Dari 14 anak perusahaan ini, hanya ada 4 atau 6 perusahaan yang kami bereskan, tetapi yang lainnya tetap sustain.

Beberapa anak perusahaan ini harus segera saya benahi supaya sustain semua. Mudah-mudahan Juni sudah signing dengan Himbara. Kalau nanti sudah sustain, langkah berikutnya yang dilakukan ialah mengubah bisnis model dan sistem penjualan.

Pada tahun depan mudah-mudahan CPO dan karet semuanya bisa ekspor. Rencana jangka panjangnya ialah kami akan bekerja sama dengan pihak swasta untuk membuat pabrik ban. Kami juga akan terus mendorong downstream untuk sawit dengan membangun pabrik minyak goreng.

Kapan pembangunan pabrik ban dan minyak goreng direalisasikan?

Kami sudah melakukan pendekatan ke beberapa perusahaan besar untuk merealisasikan program tersebut. Targetnya pada tahun depan sudah mulai dibangun pabriknya, dan pada 2020 sudah harus jadi pabriknya.

Kemungkinan lokasi pembangunannya ada di Sei Mangkei atau di dekat kebun karet kami di Lampung, karena perkebunan karet kami sangat luas. Untuk pabrik minyak goreng, satu pabrik akan dibangun di Sei Mangkei, sedangkan pabrik yang satunya lagi kalau tidak di Lampung, atau di Palembang.

Apa saja sasaran yang ingin Anda capai?

Pertama, masalah gula ini harus bisa dijual sesuai HET di pasar. HET sekarang mungkin sekitar Rp12.500 per kg. Kalau harga pokok kami rerata Rp11.000—Rp12.500, kami rugi.

Oleh karena itu, sesuai roadmap dari Menteri BUMN, ada komitmen yang kami sepakati dalam rangka menuju harga pokok pada 2022 yaitu Rp7.500 per kilogram. Sekarang harga pokok ada yang Rp15.000—Rp16.000, dan ada yang Rp7.000—Rp8.000 per kg.

Dari sekitar 38 pabrik gula kami, ada sekitar 20% atau 30% pabrik yang usianya sudah ratusan tahun, dan sudah tidak efektif. Kami akan fokus pada 10 pabrik gula yang akan kami kembangkan, dan akan membuat sekitar 3 sampai 4 pabrik gula baru.

Artinya akan ada pabrik gula yang ditutup?

Kemungkinan nanti tinggal 27 atau 28 pabrik yang jalan. Intinya, pabrik gula yang banyak itu akan kami rampingkan, yang tidak efisien akan kami tutup. Yang kami tutup ada 5 pabrik, sedangkan 5 lagi akan kami alih fungsi.

Petani tidak perlu khawatir karena tebu mereka akan kami bawa ke pabrik gula yang lebih baru, lebih efisien, dan transparan. Dengan demikian, petani bisa menikmati bagi hasil yang lebih tinggi lagi.

Kami sudah sampaikan ke Menteri BUMN bahwa pabrik gula ditutup jika sudah ada pabrik gula yang menggantikan. Jadi bisa dipastikan, tebu petani akan tetap kami kirim dan tidak akan ditelantarkan.

Apakah pangsa pasar gula PTPN nantinya bisa lebih besar?

Tagrt kami harus menguasai 60%—70% pangsa pasar gula. Kami bisa kuasai pangsa pasar karena kami pantau HET. Kalau HET kecil atau turun, tetapi cost-nya efektif, tidak apa-apa. Kami support pemerintah terus, melalui misi yang harus dijalankan supaya masyarakat bisa mendapatkan produksi BUMN ini dengan harga murah.

Bagaimana program pengembangan komoditas sawit?

Sesuai dengan arahan pemerintah, kami harus melakukan downstream . Kami akan targetkan, pada Juni pabrik minyak goreng di Sei Mangkei beroperasi.

Untuk menunjang hal itu, RPN akan kami ambil alih sebagai riset. Jadi, RPN dan P3GI akan bekerja untuk PTPN Group. Mereka tidak perlu lagi mencari bisnis ke luar, tetapi fokus ke riset. Kami akan bayar dari risetnya dan dari bantuan teknisnya.

Bagaimana strategi untuk menggenjot produksi sawit?

Kami akan melakukan konversi untuk tanaman yang tidak sehat dikonversi ke sawit. Lahan PTPN VII, PTPN VII, dan PTPN IV ada beberapa bagian yang akan dikonversi dari karet menjadi sawit. Itu merupakan program jangka pendek kami dan beberapa sudah ada yang berjalan.

Artinya luas lahan sawit akan meningkat?

Mungkin target saya 750.00 hektare (ha). Dengan lahan seluas itu, kira-kira kami bisa memproduksi 3,2 juta ton per tahun. Berarti saya bisa bikin derivatif hampir 1,2 juta ton minyak goreng, that is the future.

Selain perkebunan, bagaimana rencana pengembangan bisnis di bidang lainnya?

Kami akan mergerkan anak perusahaan di bidang usaha rumah sakit pada semester II/2018. Rumah sakit yang di Jawa Timur akan dimerger dulu. Setelah itu, kami akan kelola yang ada di Sumatra.

Ke depan, kami akan mengambil alih RS yang ada di Medan dan sekitarnya, karena kami lihat RS yang ada di Jawa Timur cukup sukses. Kalau berjalan sendiri-sendiri, keuntungannya kurag maksimal, tetapi kalau di merger bisa lebih besar karena satu sistem dan satu pengadaan. Misalnya, pembelian obatnya menjadi sekalian dalam jumlah besar sehingga bisa dapat potongan harga.

Apa saja hal-hal yang masih menjadi tantangan?

Pertama, bagaimana membuat usaha PTPN yang saat ini mulai banyak kompetitor untuk karet, sawit, gula, dan teh bisa tetap sustain sampai jangka panjang.

Kedua, untuk mencapainya, target saya adalah mengubah kultur. Sebetulnya kalau kultur PTPN saat ini berubah, saya rasa kami bisa berkompetisi ke depan.

Ketiga, dari segi pendanaan, saya rasa Himbara pasti mendukung, karena kami sekarang masih punya EBITDA Rp7,5 triliun, dan equity Rp56 triliun. Kalau kami mau ekspansi tidak didukung dengan kultur yang kuat, akan berat dan tetap seperti masa lalu.

Perubahan kultur seperti apa yang Anda maksud?

Kami ingin mengubah kultur dengan mengarahkan mereka dan mendatangkan konsultan yang mendampingi day to day sehingga nanti tidak liar lagi. Termasuk bagaimana memverifikasi dan menjamin produk kami layak konsumsi dengan menjalin kerja sama dengan Sucofindo.

Kami juga melihat bahwa tidak ada lagi pihak yang punya 1,1 juta ha lahan kecuali PTPN. We are the biggest land owner. Masak kami tidak bisa hidup dari situ? Jadi, kultur harus kami ubah. Selain itu, kami juga akan melakukan diversifikasi produk.

Bagaimana PTPN III menjalin sinergi dengan BUMN lain?

Tujuan sinergi BUMN adalah reduce the cost dan alih teknologi. Kami sharing knowledge dengan BUMN lainnya, dan membuat kami bekerja sama itu positif.

Sebentar lagi, kami mungkin akan bekerja sama dengan Pelindo, RNI , PT Djakarta Lloyd, PPI , dan tentunya Himbara.

Banyak potensi kerja sama yang bisa dijajaki. Kami genjot maksimal penjualan tetapi mencoba mengurangi cost-nya melalui sinergi BUMN.

Tag : holding bumn
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top