Misi Dagang RI ke AS Buahkan Kesepakatan US$1,01 Miliar

Kunjungan delegasi bisnis dan pemerintah Indonesia ke Amerika Serikat sepanjang pekan lalu melahirkan kerja sama perdagangan dan investasi senilai US$1,01 miliar.
Yustinus Andri DP | 30 Juli 2018 14:34 WIB
Alat pengangkut kontainer (Reach Stacker) dioperasikan untuk memindahkan kontainer ke atas truk, di Pelabuhan Cabang Makassar yang dikelola Pelindo IV, Selasa (20/2/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Kunjungan delegasi bisnis dan pemerintah Indonesia ke Amerika Serikat sepanjang pekan lalu melahirkan kerja sama perdagangan dan investasi senilai US$1,01 miliar.

Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Umum Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Indonesia (Aseibsindo) Hendro Juwono, yang turut mengikuti delegasi pimpinan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ke Washington D.C. pada 23—27 Juli 2018.

“Kerja sama perdagangan tersebut berbentuk penandatanganan nota kesepahaman antara pelaku usaha Indonesia dan AS di sektor baja, tekstil dan produk tekstil, kedelai, gandum, dan hortikultura, serta investasi produk olahan susu,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Minggu (29/7).

Lebih spesifik, dia menjabarkan kerja sama senilai US$1,01 miliar itu lebih didominasi oleh perjanjian untuk mengimpor lebih banyak produk AS oleh Indonesia, ketimbang sebaliknya.

“[Di antara nilai misi dagang yang disepakati itu,] Kerja sama untuk impor buah-buahan dari AS kurang lebih mencapai US$72 juta, untuk komoditas jeruk, apel, dan anggur,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengungkapkan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) tersebut juga mencakup kesepakatan untuk memasok kapas sebagai bahan baku tekstil dan produk tekstil (TPT).

Dalam kesepakatan itu, pengusaha TPT Indonesia menggaet pemasok kapas besar  dari Negeri Paman Sam, seperti Louis Dreyfus, Cargill dan Toyo Cotton.

"Dengan kesepahaman ini, kami bisa menggunakan kapas Amerika lebih banyak. Pada gilirannya, industri TPT Indonesia berharap dapat lebih banyak memproduksi [TPT untuk] diekspor ke AS," kata Ade melalui aplikasi pesan dari AS, akhir pekan lalu.  

Melalui kesepahaman ini, API akan membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi kerja sama penyimpanan kapas di Indonesia. Asosiasi juga akan menyiapkan bantuan teknis jika memang dibutuhkan. Meski begitu, tidak disebutkan target  peningkatan impor kapas AS ini.

"Pemerintah Indonesia telah menyediakan fasilitas pusat logistik berikat [PLB] yang akan memangkas persoalan keterlambatan kapas dari AS. Untuk impor biasanya memerlukan waktu satu bulan hinggga dua bulan untuk tiba di Indonesia," katanya. 

BERTEMU USTR

Pada perkembangan lain, Mendag Enggartiasto telah menemui Duta Besar United States Trade Representative (USTR) Robert E. Lightizer akhir pekan lalu, sebagai agenda puncak dari lawatan delegasi RI ke AS untuk negosiasi fasilitas generalized system of preferences (GSP).

Di dalam pertemuan tersebut, Enggar menjanjikan Indonesia akan meningkatkan ekspor produk-produk yang potensial di pasar AS. Sebagai gantinya, delegasi RI menyanggupi kesiapan untuk mengimpor lebih banyak bahan baku dan barang modal dari AS.

“Permintaan mempertahankan GSP untuk Indonesia tersebut tidak hanya untuk kepentingan industri di Indonesia, tetapi juga di AS karena terkait proses produksi domestik mereka. Jadi, sebetulnya ini kerja sama saling menguntungkan,” ungkapnya.

Enggar kembali menegaskan, Indonesia masih membutuhkan GSP untuk daya saing produk di pasar AS. Apalagi, tahun lalu produk RI yang menggunakan GSP hanya bernilai US$1,95 miliar, jauh di bawah negara-negara penerima lain seperti India (US$5,6 miliar), Thailand (US$4,2 miliar), dan Brasil (US$2,5 miliar.

“Proses peninjauan ulang saat ini tengah berlangsung. Oleh karena itu, kunjungan kali ini sangat tepat waktunya dan strategis dalam menegaskan kembali arti penting perdagangan Indonesia dan AS.”

Berdasarkan catatan Kemendag, total perdagangan RI-AS pada 2017 mencapai US$25,91 miliar. Dari angka tersebut, ekspor Indonesia mencapai US$17,79 miliar dan impornya US$8,12 miliar.

Adapun, ekspor utama Indonesia ke AS a.l. udang, karet alam, alas kaki, ban kendaraan, dan garmen. Sementara itu, impor utama dari AS a.l. kedelai, kapas, tepung gandum, tepung maizena, serta pakan ternak.

Total perdagangan RI-AS pada tahun lalu naik 10% dibandingkan dengan 2016 yang tercatat senilai US$23,44 miliar. Sepanjang 2013—107, perdagangan kedua negara tumbuh 0,39%. 

Tag : misi dagang
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top