Daiwa: Dari Kawasan Industri ke Properti

Pengembang asal Jepang, Daiwa House Industry menyiapkan 1.358 unit dalam dua menara pada proyek Sakura Garden City di Cipayung, Jakarta Timur.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 03 Juli 2018 19:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengembang asal Jepang, Daiwa House Industry menyiapkan 1.358 unit dalam dua menara pada proyek Sakura Garden City di Cipayung, Jakarta Timur.

Adapun, pengembang Sakura Garden City adalah PT Sayana Integra Properti, hasil kerjasama Daiwa House Industry dengan Japan Overseas Infrastructure Investment Corporation for Transport and Urban Development (JOIN), dan Trivo Group.

Manajer Pemasaran Sakura Garden City, Freddy Tjandra mengatakan Daiwa House Industry sudah bekerjasama dengan banyak perusahaan di luar negeri. Misalnya di Australia, Amerika, dan sejumlah negara Asia Tenggara lain seperti Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Ada pun kerjasama pembangunan umumnya fokus pada pengembangan kawasan industri dan kota mandiri.

Bisnis mencatat, Daiwa House  Industry sebelumnya sudah mengembangkan kawasan industri di Cikarang, yaitu MM2100 sejak 2011. Dia menyebut pembangunan superblok di Cipayung ini menandakan Daiwa House Industry tidak hanya mengandalkan pemasukan dari bisnis kawasan industri. Total investasi untuk kawasan industri dan properti superblok Sakura Garden City ini sudah lebih dari US$100 juta.

"Kami melihat pangsa pasar residensial ini kan lebih besar daripada industri," ujar Freddy di Pullman Hotel, Selasa (3/7/2018).

Menurut Freddy, Daiwa House Industry melihat pasar properti di Indonesia sangat besar berbanding lurus dengan angka kebutuhan rumah (backlog) yang besar yakni 11,4 juta unit. Kondisi ini juga menjadi alasan Daiwa House Industry masuk ke bisnis properti, sebab lebih besar pangsa pasar di residensial ketimbang industri.

Freddy menyebut ada 10 hektare luas lahan untuk pengembangan superblok yang terintegrasi Stasiun light rail transit (LRT) di Ciracas itu. Dia mengatakan, nilai investasi sekitar USD80 juta itu porsi terbanyak digunakan untuk modal pembelian lahan.

"Nanti totalnya akan dibangun 12 tower. Pembangunan menggunakan dana internal asa 60% dan dari JOIN ada 40%," sambungnya.

Sementara itu, Chief Marketing Officer PT Sayana Integra Properti mengatakan tahap pertama perusahaan akan membangun 4 tower, didahului dengan ground breaking dua tower pertama pada 21 Juli 2018 mendatang. Total unit per tower sebanyak 679 unit per tower, dengan total 1.358 unit untuk dua tower.

"Harga per meter Rp20 juta. Angka ini dibandingkan dengan Karawang dan Cikarang masih terjangkau. Cicilan Rp4 juta sampai Rp5 juta," kata Edward.

Edward menyebut proyek pembangunan superblok ini akan menggandeng kontraktor Jepang. Dengan demikian perusahaan bisa menjamin tingkah kokoh dan standar bangunan sesuai standar Jepang.

Proses penjualan nantinya akan mulai setelah ground breaking. Dia menyasar pembeli unit nantinya 70% adalah end-user, dan sisanya 30% adalah investor.

Tag : pengembang asing
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top