Kesejahteraan Petani, HKTI Dorong Modernisasi dan Teknologi Pertanian

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mendorong pemerintah untuk menerapkan modernisasi pertanian dengan perubahan paradigma yang mengedepankan teknologi dan riset untuk kesejahteraan petani.
Newswire | 01 Juli 2018 18:26 WIB
Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko (kiri) berdialog dengan petani kopi di sela-sela panen kopi di daerah Puntang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/5/2018) - Jibi/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mendorong pemerintah untuk menerapkan modernisasi pertanian dengan perubahan paradigma yang mengedepankan teknologi dan riset untuk kesejahteraan petani.

Mekanisasi di seluruh sektor pertanian juga bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil bumi sehingga pertanian Indonesia bisa bersaing di dunia.

Ketua Umum HKTI Moeldoko mengatakan bahwa di negara maju, sektor pertanian memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi.

"Kami berharap, petani dari waktu ke waktu sudah terbiasa menggunakan teknologi sebagai upaya meningkatkan produksi. Ini sedang kami kerjakan dalam tempo tidak terlalu lama," ujarnya dalam penutupan acara Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2018, Sabtu

Menurutnya, setiap benih, bibit, alat dan mesin pertanian selalu ditingkatkan dengan inovasi baru agar hasil buminya meningkat mengimbangi pertumbuhan penduduk.

"Saya ingin menyampaikan bahwa negara yang memiliki tingkat kemajuan di pertanian pasti memiliki high innovation. Petani kita, pertanian Indonesia, hanya bisa berkembang karena teknologi. Sementara ini masyarakat kita masih hampir sebagian tradisional," kata Moeldoko yang juga Kepala Staf Kepresidenan ini.

HKTI, lanjut Moeldoko, sudah melakukan sejumlah inovasi di sektor pertanian.

Moeldoko mengaku telah menemukan benih padi yang berumur 70 hari bisa menghasilkan delapan ton per hektare.

"Saya punya M500 hasilnya sembilan ton," tambah Moeldoko.

Di samping padi, kata Moeldoko, HKTI juga telah berhasil menemukan bibit kentang yang bisa meningkatkan produktivitasnya.

Menurut Moeldoko, hasil pengembangan kentang ini bisa mencapai produktivitags 30 ton per hektare, dua kali lipat dibanding dengan bibit kentang sebelumnya yang berjumlah 15 ton per hektare.

Kemudian, lanjut dia, hasil penyelenggaraan ASAFF selama tiga hari ini, juga menghasilkan sejumlah kerja sama bilateral dengan negara lain.

Menurutnya, teknologi pertanian yang tergolong maju bisa mencontoh negara-negara maju yang pertaniannya bisa hebat di Internasional, seperti Israel, Taiwan dan Thailand.

Dengan nilai tukar mata uang asing yang meningkat, justru petani bisa naik kesejahteraannya, jika ekspor hasil pertanian meningkat.

"Kami HKTI telah bangun komunikasi dan akan MoU dengan negara-negara yang memiliki high technology di bidang pertanian agar terjadi transformasi teknologi, transformasi culture, knowledge dan seterusnya," jelas Moeldoko.

Bukan hanya produksi, kata Moeldoko, petani Indonesia juga diharapkan bisa mandiri dalam mengola hasil buminya. Dengan pengelolaan dan pengemasan yang bagus, nilai jual pangan akan semakin tinggi.

"Percuma ada barang bagus tetapi tidak bisa mengolah. Karena itu, kami siapkan barang bagus, benih dan pupuk. Setelah itu kami dampingi dengan baik dan coba untuk bantu cari pembelinya," kata mantan Panglima TNI bergelar doktor administrasi negara dari Universitas Indonesia ini.

Selain masalah inovasi dan mekanisasi, Moeldoko juga menjamin HKTI akan mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang mengarah pada kedaulatan pangan.

Moeldoko memastikan, lembaganya itu menjadi penengah di antara pemerintah, akademisi, pengusaha dan petani.

Tag : petani
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top