Begini Obrolan Presiden Jokowi dengan Petani

Setidaknya 200 orang petani yang tergabung dalam Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) merapat ke Istana Negara bertemu Presiden Joko Widodo. Mereka hadir, dalam momentum peresmian
David Eka Issetiabudi | 28 Juni 2018 18:46 WIB
Presiden Joko WIdodo mengajukan pertanyaan kepada warga di sela peluncuran aturan penurunan tarif Pajak Penghasilan Final 0,5 persen bagi UMKM di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/6/2018). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA — Setidaknya 200 orang petani yang tergabung dalam Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) merapat ke Istana Negara bertemu Presiden Joko Widodo. Mereka hadir, dalam momentum peresmian

Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2018 oleh Presiden Jokowi, Kamis (28/6/2018). Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebut bahwa momentum pertemuan, menjadi ajang dialog petani dengan presidennya.

Menjadi ciri khas Jokowi, yang kerap menyerap aspirasi masyarakat dalam setiap forum. Kali ini, ada empat petani dari berbagai daerah mendapat kesempatan berbincang dengan Kepala Negara.

Seperti biasa pula, setelah menyampaikan aspirasi, masyarakat diberikan buah tangan. Ya, apalagi bukan sepeda.

Petani pertama yang mendapat giliran adalah Ahmad Mujahidin. Petani yang juga berprofesi sebagai dosen asal Riau ini, dalam 2 tahun terakhir fokus menanam 7,5 hektare pohon kelengkeng.

"Sekarang sudah mulai berbunga. Satu hektarenya saya tanam sekitar 200 batang. Nanti kalau panen, petik di pohon sekilonya dihargai Rp75.000," tuturnya.

Penjelasan petani yang bergelar profesor ini pun, langsung direspons Jokowi. Dia mengatakan bahwa cerita dari Ahmad merupakan contoh bahwa petani tidak monoton hanya menanam komoditas tertentu.

"Kita jangan konsentrasi terus pada urusan padi, ada komoditas lain yang memiliki nilai yang baik. Kejayaan kita sebagai negara rempah-rempah harus dikembalikan," jelas Jokowi.

Petani kedua pun mendapat giliran. Tunov, petani asal Kabupaten Magelang yang menanam 2 ha cabai. Dia menceritakan bahwa modal nenanam cabai senilai Rp75 juta, dengan produktivitas mencapai 4 ton.

"Supaya untung Pak, harga per kilonya minimal Rp15.000-Rp17.000. Tapi sempat juga, beberapa tahun lalu hanya laku Rp4.000 per kg," ungkapnya.

Cerita yang sedikit pedas ini, juga langsung ditanggapi Jokowi. Dia mengaku bahwa dalam hal ini pemerintah berada pada posisi yang sulit dan serba salah.

Curhatan Jokowi pun berlanjut, ketika mulai mencontohkam posisi sulit yang dialami pemerintah. Soal beras misalnya, ketika harga tinggi, masyarakat mengeluh kepada pemerintah. Di sisi lain, untuk menekan harga dan mencukupi kebutuhan, langkah impor pun ditempuh.

"Mau enggak mau kan impor, nah kali ini gantian dimaki-maki petani," ungkapnya.

Menghadapi situasi ini, Jokowi mengatakan tidak mudah mendapatkan keseimbangan. Kendati demikian, pemerintah berupaya terus mencari keseimbangan agar masyarakat tidak terbeban.

Selesai dengan Tunov, Jokowi tetap mendengar keluhan petani. Memang tidak semua keluhan dapat langsung dicarikan jalan keluar. Akan tetapi, setidaknya ada kelegaan karena petani dapat menyuarakan aspirasinya.

"Saya ada sepeda," seru Jokowi yang langsung memecah suasana.

Tag : jokowi, petani
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top