Kepala Daerah di Jabodetabek Perlu Fokus Bangun Hunian Vertikal

Momen Pilkada Serentak 2018 di Jabodetabek, khususnya irisan antara Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten juga Jawa Barat harus mulai mendorong pembangunan perumahan vertikal.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 28 Juni 2018 16:31 WIB
Pengunjung mengamati maket rumah susun dengan konsep transit oriented development (TOD) di Stasiun Pondok Cina, Depok, Jawa Barat, Senin (2/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Momen Pilkada Serentak 2018 di Jabodetabek, khususnya irisan antara Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten juga Jawa Barat harus mulai mendorong pembangunan perumahan vertikal.

Senior Technical Savills Indonesia Lucy Rumantir mengatakan para kepala daerah yang terpilih dalam momentum Pilkada Serentak 2018 ini harus mulai fokus dengan pemenuhan kebutuhan perumahan. Adapun, di daerah Jabodetabek atau Greater Jakarta, kepala daerah perlu menyusun strategi pembangunan hunian vertikal.

"Para Kepala Daerah terpilih agar supaya segera mulai kerja dan fokus kepada kebutuhan pokok daerahnya masing-masing," ungkap Lucy kepada Bisnis, Kamis (28/6/2018).

Dia mengungkapkan, bahwa papan alias perumahan sangat krusial di setiap daerah selain masalah pangan. Dia menilai, pentingnya meningkatkan produktivitas setiap daerah dengan menambah lapangan pekerjaan dan ruang perkantoran.

"Masih sangat banyak penduduk daerah Jabodetabek yang di luar Jakarta yang masih mengontrak rumah atau kamar," kata Lucy.

Dia menjelaskan, keterbatasan lahan di Jabodetabek membuat fokus pembangunan perumahan di tingkat provinsi ataupun kabupaten kota mulai mengarah ke vertikal.

Sementara itu, Indonesia Property Watch memprediksikan pasar properti di Indonesia saat ini juga sedang mengalami kebangkitan.

CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda mengatakan geliat pasar properti di Indonesia sangat dipengaruhi oleh gerak pasokan. Pasalnya, para pengembang selalu dijadikan tolak ukur kesuksesan dari bisnis properti.

"Salah satu penentu kebangkitan pasar properti lebih dikarenakan aksi-aksi yang dilakukan para pengembang. Bukan demand driven, karena kalau permintaan sebenarnya pasar properti Indonesia tidak akan kehabisan daya beli, apalagi segmen menengah atas. Aksi para pengembang ini akan menjadi trigger pasar properti," terang Ali.

Menurut Ali, kemunculan proyek baru membuat pasar kembali aktif. Dia menegaskan,  kondisi positif ini diimbangi dengan turunnya suku bunga perbankan ke level 6% sampai 7% yang mengangkat daya beli masyarakat dalam mencicil propertinya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rumah susun, rumah vertikal

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top