Cegah Banjir, Agroforestry dan Rehabilitasi Hutan Jadi Tumpuan

Agroforestry dan rehabilitasi hutan akan digencarkan untuk mencegah bencana banjir dan longsor tahun ini.
Sri Mas Sari | 25 Juni 2018 21:06 WIB
Kondisi sebagian kawasan hutan yang rusak di sekitar pegunungan Kalukku, Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (25/10). - ANTARA/Akbar Tado

Bisnis.com, JAKARTA - Agroforestry dan rehabilitasi hutan akan digencarkan untuk mencegah bencana banjir dan longsor tahun ini.

Berdasarkan hasil analisis perubahan tutupan lahan 2017, luas tutupan hutan di bagian hulu masih tergolong baik, yakni sekitar 60% atau 9.785,18 hektare (ha) dari total luas penutupan lahan 13.826,7 ha. Adapun luas kategori lahan kritis dan sangat kritis 2.078,1 ha.

Dirjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ida Bagus Putera Parthama mengatakan kementerian telah melakukan rehabilitasi hutan lahan (RHL) sejak 2010 seluas 383 ha di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Bomo dan DAS Glondong.

"Ke depan, KLHK akan menerapkan skema agroforestry seluas 30 ha dan RHL dalam kawasan hutan seluas 1.500 ha dalam rangka mitigasi bencana banjir," katanya, Senin (25/6/2018).

Banjir bandang di Banyuwangi pekan lalu (Kamis, 21/06/2018), telah mengakibatkan sejumlah kecamatan yang termasuk DAS Bomo dan DAS Glondong terendam lumpur dan material vulkanik. KLHK mencatat luas daerah tangkapan air (DTA) banjir di kedua DAS itu 13.876,7 ha dengan total lahan kritis 2.078,1 ha.

Curah hujan tinggi juga mengakibatkan peningkatan limpasan permukaan yang melebihi kapasitas di beberapa DTA, a.l. di DTA Badeng 26,2 m3 per detik (kapasitas pengaliran 3,8 m3 per detik), DTA Kumbo 41,9 m3 per detik (kapasitas pengaliran 5,2 m3 per detik), dan DTA Binaung 37,4 m3 per detik (kapasitas pengaliran 5,3 m3 per detik.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS Yuliarto mengatakan KLHK akan mengajak masyarakat menanam jenis tanaman yang mempunyai perakaran dalam, kerapatan tajuk tinggi, dan evapotranspirasi tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS) Surakarta, terdapat 47 jenis tanaman yang berpotensi untuk mencegah tanah longsor, a.l. pilang, cempedak, sukun, mimba, kemiri, nangka, jambu mete, aren, damar, bambu, tayuman, kupu-kupu, kayu manis, trengguh, kaliandra merah, kaliandra putih, kenanga, johar, dan sonokeling.

“Kami juga akan bekerja sama dengan pemda dan instansi terkait untuk mengidentifikasi daerah-daerah rawan bencana melalui review peta sistem standar operasi prosedur dan menyosialisasikannya ke pihak terkait," ujarnya.

Tag : hutan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top