AEKI: Tata Niaga Kopi Yang Paling Transparan

Kemajuan teknologi memberikan kesempatan bagi para petani kopi untuk mendapatkan harga yang lebih baik dengan bisa langsung mengakses eksportir. Pasalnya, petani sering bergantung pada desa kolektor untuk pembiayaan dan pemasukan sepanjang tahun dalam kurun waktu yang lama
Pandu Gumilar | 21 Juni 2018 19:54 WIB
Pekerja menyortir biji kopi sebagai komoditas ekspor ke Jepang, Kanada, Hongkong, dan Italia di Pabrik Kopi Banaran milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/7). - ANTARA/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Kemajuan teknologi memberikan kesempatan bagi para petani kopi untuk mendapatkan harga yang lebih baik dengan bisa langsung mengakses eksportir. Pasalnya, petani sering bergantung pada desa kolektor untuk pembiayaan dan pemasukan sepanjang tahun dalam kurun waktu yang lama.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan sudah lebih dari 15 tahun harga biji kopi dalam perindustrian dalam negeri berjalan transparan. “Sudah lebih dari 15 tahun dan memang seharusnya begitu,” katanya pada Kamis (21/6).

Menurutnya dengan kemajuan jaman seperti ini, petani dapat dengan mudah menjangkau eksportir dan mendapatkan harga yang lebih kompetitif. Dengan kemajuan infrastruktur, petani dapat memperpendek jarak dan tidak perlu lagi melalui perantara seperti pengepul dan broker.

“Jam 06.00 wib, radio BBC dan Australia sudah mengumumkan closing kopi Arabica NY dan Robusta London, dan jam 09.00 wib, petani bisa langsung call bank untuk tahu nilai tukar rupiah. Petani semua tahu dan tidak apa-apa sudah seharusnya begitu,” katanya.

Pranoto mengatakan tata niaga kopi bisa dikatakan yang lebih baik dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya. Kemajuan teknologi memang dapat memangkas rantai pasok namun, eksportir jadi harus melakukan proses pengeringan supaya biji kopi dari petani sesuai standar internasional.

“Petani menjual [biji] kopi asalan dengan kadar air 20%-21%. Eksportir jadi harus memproses agar sesuai dengan grade ekspor dengan kadar air 11%, biaya karung, dll,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut dikarenakan terbatasnya peralatan dan modal yang dimiliki oleh petani alhasil eksportir yang harus melakukannya.

Tag : kopi
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top