Pabrikan Semen Optimistis

Rencana penaikan kembali suku bunga acuan Bank Indonesia dinilai tidak terlalu berdampak terhadap industri semen.
Annisa Sulistyo Rini | 20 Juni 2018 22:39 WIB
Pekerja membongkar muatan semen di Pelabuhan Makassar, Senin (28/8). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA —- Rencana penaikan kembali suku bunga acuan Bank Indonesia dinilai tidak terlalu berdampak terhadap industri semen.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya menyatakan bakal menyiapkan kebijakan lanjutan untuk menghadapi perkembangan baru dari Bank Sentral Amerika Serikat dan juga Eropa. Pada Mei, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 2 kali sebesar 50 basis poin.

Agung Wiharto, Corporate Secretary PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., mengatakan hal tersebut disebabkan kontribusi semen terhadap proyek pembangunan, seperti konstruksi perumahan, hanya sekitar 10%. Selain itu, proyek infrastruktur akan tetap jalan kendati suku bunga dinaikkan.

“Orang membeli semen itu karena butuh dan enggak pengaruh sama harga, promosi, dan lain-lain,” ujarnya, Rabu (20/6/2018).

Produsen semen saat ini lebih fokus menghadapi kondisi kelebihan pasokan dengan melakukan berbagai upaya efisiensi. Terlebih dengan kondisi tersebut, persaingan di pasar juga lebih ketat.

Terkait dengan kenaikan suku bunga terhadap kondisi keuangan perseroan, Agung mengatakan pihaknya telah mempertimbangkan biaya dana dari berbagai sumber pendanaan, seperti kredit dan surat utang atau obligasi.

“Perusahaan akan memilih mana yang lebih efisien. Kemarin kami kan menerbitkan obligasi yang bunganya cenderung fixed rate,” jelas Agung.

Dari sisi penjualan, berdasarkan laporan yang dipublikasikan pada situs resmi, Semen Indonesia Group membukukan kenaikan tipis dari penjualan domestik pada April 2018, yaitu tumbuh 0,14% dari 2,290 juta ton menjadi 2,293 juta ton secara tahunan. Adapun, penjualan total untuk pasar domestik dan ekspor mengalami pertumbuhan 8,7% y-o-y.

Secara industri, berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) konsumsi semen dalam negeri pada bulan keempat tumbuh 6% secara tahunan atau sebesar 5,33 juta ton.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh permintaan di Sumatra, Banten, dan Jawa Tengah yang masing-masing tumbuh sebesar 12,2%, 12,3%, dan 11,9%. Pulau Sumatra juga mencatatkan konsumsi semen paling besar, yaitu 1,15 juta ton.

Hampir seluruh wilayah mengalami peningkatan konsumsi, kecuali Yogyakarta dan Jawa Timur yang mencatatkan penurunan sebesar 1,3% dan 3,6%. Konsumsi domestik masih terpusat di Pulau Jawa dengan kontribusi 56,70%.

Secara kumulatif, konsumsi semen domestik sepanjang Januari—April 2018 sebesar 21,05 juta ton, naik 6,4% y-o-y dari 19,78 juta ton. Sementara itu, pada periode yang sama ekspor semen dan clinker masih terus mengalami peningkatan sebesar 110,7% dari 615.005 ton menjadi 1,29 juta ton. Secara keseluruhan, konsumsi semen domestik dan ekspor tumbuh 9,6% y-o-y pada Januari—April 2018 menjadi 22,35 juta ton.

 

 

Tag : semen
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top