AS & China Perang Tarif, Ekonom: Sabet Peluang, RI agar Tingkatkan Diplomasi

Pemerintah Amerika Serikat dan China sama-sama menyiapkan rencana pengenaan tarif impor di anatara dua negara tersebut hingga bernilai US$50 miliar.
Linda Teti Silitonga | 17 Juni 2018 17:47 WIB
Kelapa sawit. - Bloomberg/Taylor Weidman

Bisnis.com, JAKARTA— Pemerintah Amerika Serikat dan China sama-sama menyiapkan rencana pengenaan tarif impor di anatara dua negara tersebut hingga bernilai US$50 miliar.

Pemerintah AS menyiapkan daftar berisi 800 produk China yang dikenai tarif tinggi mulai 6 Juli mendatang. Produk ini meliputi mesin dan peralatan manufaktur, barang elektronik hingga alat transportasi.

Sementara itu, pemerintah China merespons dengan akan memberlakukan tarif 25% terhadap 659 produk AS, mulai dari kedelai, makanan laut, hingga mobil senilai US$50 miliar.

Peneliti Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyoroti khususnya ancaman pengenaan tarif kedelai AS Oleh China.

“Permintaan domestik China atas minyak nabati cukup besar, (ini jadi) peluang besar (buat Indonesia),” kata Bhima

Dia menilai kebutuhan China aka produk minyak nabati, antara lain minyak kedelai cukup besar yang digunakan baik untuk produk makanan dan industri lainnya.

Dengan adanya hambatan tarif dari AS sehingga menjadi mahal harga belinya ujarnya, dalam hal ini Indonesia memiliki peluang untuk memasok minyak nabati alternatif lainnya, yaitu minyak sawit (crude palm oil/CPO).

“Indonesia dan Malaysia punya peluang besar,” kata Bhima.

Sementara itu di pihak AS, ketika Negeri Paman Sam menaikkan tarif produk elektronik asal China, maka juga bisa menjadi peluang bagi Indonesia di samping Vietnam.

“Harga barang elektroik bisa kompetetif. (Kemungkinan lainnya) alas alas kaki,” kata Bhima.

Bhima meyakini China ke depannya akan memperkuat perjanjia dagang bilateral dengan sejumlah negara, termasuk Kanada, Meksiko.

Sementara itu ujarnya, pemerintah Indonesia juga diharapkan meningkatkan diplomasi di bidang perdagangan yang melibatkan kalangan atase perdagangan.

Kedelai Komoditas Ekspor Andalan AS

Bhima menyoroti khususnya ancaman pengenaan tarif kedelai AS Oleh China.

“(Produksi) kedelai (AS) besar,” kata Bhima.

Dari catatan Indef, AS mengekspor sekitar US$14 miliar kedelai ke China, menurut Departemen Pertanian AS dan pihak China membeli kira-kira setengah dari ekspor kedelai AS tersebut.

Catatan Indef juga mengemukakan China banyak mengimpor daging bagi dari AS. Adapun total ekspor daging babi AS ke China bernilai U$1,16 miliar.

Produk Pertanian

Ketika ditanyakan masuknya produk pertanian dalam aksi perang tarif China dan AS, Bhima mengemukakan dampaknya bisa cepat terlihat.

“Produk agri menyentuh masyarakat lapis bawah. (Bisa memicu) protes petani. {Agri juga merupakan) salah satu (sektor dengan) serapan tenaga kerja yang besar,” kata Bhima).

Sektor pertanian juga rentan terhadap gangguan. “Kendala karena bahan makanan, efeknya juga terasa dalam jangkan pendek,”kata Bhima.

Bola Liar Perang Dagang

“(Terkait rencana aksi balas tarif ntara AS dan China), ke depan akan (berpotensi menjadi) menjadi bola liar perang dagang,” kata Bhima.

Bhima mengemukakan sikap China, karena pemerintah AS  memulai dulu “genderang perang perdagangan”di anatara keduanya. Apalagi AS akan mengenakan tarif impor produk asal China hingga senilai US$50 miliar.

“AS mulai duluan. Chima imbangi dengan hal sama,” kata Bhima.

China katanya, juga akan melakukan proteksi barang yang masuk dari AS. “Intinya ingin mencapai nilai tarif sama.”

Dia mengemukakan kompensasi tidak akan selesai saat ini.

“China (kemungkinan) akan lakukan banyak sekali. (Mungkin mulai dari) Harley Davidson, jeruk florida, hingga kacang kedelai,” kata Bhima.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top