Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Genjot Angkutan Feri Jarak Jauh, ASDP Cari Kapal Barang

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bakal mencari satu kapal barang untuk melayani feri jarak jauh (long distance ferry) dengan rute Jakarta-Surabaya. Kapal yang digunakan saat ini dinilai tidak ideal untuk angkutan barang.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 31 Mei 2018  |  12:39 WIB
Aktivitas bongkar muat kendaraan di dermaga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (10/10). - ANTARA/Budi Candra Setya
Aktivitas bongkar muat kendaraan di dermaga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (10/10). - ANTARA/Budi Candra Setya

Bisnis.com, JAKARTA - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bakal mencari satu kapal barang untuk melayani feri jarak jauh (long distance ferry) dengan rute Jakarta-Surabaya. Kapal yang digunakan saat ini dinilai tidak ideal untuk angkutan barang.

Direktur Operasional ASDP La Mane mengatakan saat ini perseroan mengerahkan kapal KM Ferindo 5 untuk melayani penyeberangan jarak jauh Jakarta-Surabaya. Kapal tersebut hanya bisa menampung maksimal 60 unit truk. Padahal, untuk mencapai skala keekonomian, ASDP perlu memiliki kapal dengan kapasitas 200 unit truk.

"Kami sedang mencari kapal yang lebih besar karena dengan kapal yang lebih besar [bisa menampung lebih banyak], harganya pasti lebih murah," jelas La Mane kepada Bisnis.com di Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Untuk diketahui, ASDP memulai debut layanan feri jarak jauh pada Desember 2017 di rute Jakarta-Surabaya. Pada Mei 2017, ASDP juga melayani rute Surabaya-Lembar dengan menggunakan KMP Legundi. Angkutan feri jarak jauh ini diharapkan bisa mengalihkan angkutan barang dari moda transportasi darat ke moda transportasi laut.

Kementerian Perhubungan mencatat saban hari terdapat 12.000 truk yang melintas di Pantai Utara atau panura. Alhasil, jalur Pantura menanggung beban berat, sehingga perlu perbaikan rutin setiap tahun.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun ini saja mengalokasikan anggaran hingga Rp19,7 triliun untuk perbaikan jalan nasional di jalur Pantura.

La Mane menilai pengusaha angkutan truk bisa lebih hemat dalam mengirim barang bila hanya memuat sasis tanpa kepala truk atau dikenal chasis-roro. Penghematan timbul karena pengusaha truk mengeluarkan beban biaya sopir maupun penyusutan armada.

Saat ini, dengan subsidi dari Kementerian Perhubungan, tarif yang dipatok ASDP mencapai Rp3,8 juta per trip untuk satu unit truk.

Tarif tersebut menurut La Mana kurang atraktif karena ongkos yang dikeluarkan pengusaha truk bila melintas di jalan raya sekitar Rp2,8 juta.

"Untuk itu kami terus sosialisasi dengan pengusaha-pengusaha truk untuk menyepakati harga yang pas," terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asdp
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top