Perpadi Ancang-ancang Kurangi Produksi Beras, Bulog Andalkan Mitra

Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Karawang tidak ambil pusing dengan keinginan DPD Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Karawang yang akan mengurangi produksi penggilingan selama Lebaran.
Pandu Gumilar | 24 Mei 2018 20:10 WIB
Buruh memanggul karung berisi beras di Pasar Baru, Bekasi, Jawa Barat, Senin (15/1). - ANTARA/Risky Andrianto

Bisnis.com, JAKARTA - Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Karawang tidak ambil pusing dengan keinginan DPD Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Karawang yang akan mengurangi produksi penggilingan selama Lebaran.

Wakil Kepala Bulog Divre Karawang, Khuardi mengatakan tidak ambil pusing dengan keinginan Perpadi karena Bulog masih memiliki 30 Mitra Kerja Pengadaan (MKP) dan 6 Satgas untuk tetap menjaga penyerapan.

"Selain Perpadi, kita juga ada mitra kerja pengadaan dan satgas. Kami menyerap lebih dominan kepada MKP. Total ada 30 MKP yang bekerjasama dengan kami dalam hal pengadaan," katanya pada Kamis (24/5).

Khuardi bahkan optimistis dengan total stok 38.000 ton yang mereka miliki dapat mencukupi kebutuhan Karawang atau dioper ke daerah lain. Dia menjelaskan, kebutuhan untuk beras rastra yang sudah disetujui dalam tiga bulan belakangan untuk Karawang 8.000 ton.

"kalau kita untuk bansos sendiri 2.400 ton untuk tiga bulan. Berarti sekitar 8.000 ton, kemudian yang untuk Bekasi terdapat dua lokasi sekitar 1.800 ton jadi sekitar 11.000 ton. Dan untuk kebutuhan rastra sementara baru sampai bulan mei," katanya.

Artinya masih ada 19.000 ton tersisa yang bisa disalurkan ketika terjadi penurunan produksi dari satu faktor. Khuardi mengatakan surplus tersebut dapat digunakan untuk mengisi gudang divre di daerah lain.

Khuardi mengatakan surplus tersebut dapat dikirimkan ke wilayah seperti Papua, Kalimantan Barat, Aceh dan Sumatera Utara. "[Pengiriman stok] sudah pernah ke papua, kalimantan barat, sulawesi, sumatra barat, sumatra utara, dan aceh," katanya.

Namun dari total stok 38.000 yang dimiliki Divre Karawang, 79% berasal dari beras impor Vietnam dengan broken 15% dan 5%, sedangkan sisa 21% berasal dari penyerapan lokal.

Sementara itu, di sisi lain DPD Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Karawang, Dede Samsudin meyakini harga beras akan segera turun terutama di Jabodetabek karena sebentar lagi panen kedua akan berlangsung. Menurutnya dari tahun lalu, pada saat norma ketika wilayah lain panen dengan otomatis harga gabah dan beras dari Karawang akan turun secara otomatis.

Selain itu, menurut informasi yang dihimpunnya dalam waktu dekat Jawa Tengah akan mengalami masa panen pada Juni dan Juli. Artinya hal ini akan menekan harga beras secara nasional karena Jateng adalah penghasil besar ketiga setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. “Saya yakin harga beras dan gabah turun karena Jawa Tengah akan panen juni dan juli,” katanya.

Dede juga mengatakan pelaku usaha penggilingan padi di Karawang akan melakukan penurunan produksi sebab meyakini kawasan Jabodetabek akan lengang karena momentum mudik lebaran. Otomatis, permintaan juga akan ikut berkurang.

“Jadi bulan ini ada penurunan produksi. Saya yakin nanti akan ada penurunan dan [harga tetap] stabil karena jakarta kosonh. Kami mengurangi produksi karena permintaan berkurang,”katanya.

Dede mengatakan pihaknya menjual beras senilai Rp8.500 – Rp9.500 untuk level medium. Namun, terjadi anomali karena beras yang dicampur dengan beras impor akan mengalami penurunan harga. Oleh sebab itu dia meminta agar pemerintah mengkaji ulang apakah masyarakat menyukai beras impor.

“Terkait beras impor, survei benar tidak masyarakat suka beras impor? Harga tadinya Rp8.600 ketika dicampur dengan beras Vietnam jadi Rp8.200, kenapa begitu?,” katanya.

Tag : produksi beras
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top