JAI Rambah Bisnis Perawatan Kapal

PT Jasa Armada Indonesia Tbk. atau JAI siap merambah bisnis perawatan kapal atau ship maintenance guna memperluas ekspansi. Perseroan akan menggandeng sejumlah mitra dengan fokus pada segmen kapal kecil berukuran maksimal 150 meter.
Rivki Maulana | 16 Mei 2018 19:47 WIB
Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia Tbk Dawam Atmosudiro (tengah) berbincang dengan Direktur Supardi (kiri) dan Direktur Herman Susilo, sebelum paparan kinerja perseroan, di Jakarta, Senin (2/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Jasa Armada Indonesia Tbk. atau JAI siap merambah bisnis perawatan kapal atau ship maintenance guna memperluas ekspansi. Perseroan akan menggandeng sejumlah mitra dengan fokus pada segmen kapal kecil berukuran maksimal 150 meter.

Direktur Utama JAI, Dawam Atmosudiro mengatakan perseroan tidak akan membangun fasilitas perawatan kapal di bisnis ini, melainkan bekerja sama dengan para pemilik galangan. Dia menambahkan, JAI memiliki sumber daya manusia (SDM) yang punya pengalaman panjang dalam menangani perawatan kapal.

"Riil-nya kami jadi arranger karena kami akan bantu [mitra] di sisi pemasaran. Beberapa pihak sudah agree untuk bekerja sama," ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (16/5/2018).

Dawam menuturkan, bisnis perawatan kapal akan bernaung di bawah divisi khusus atau strategic business unit (SBU). Bila usaha ini terus berkemmbang, JAI berniat memisahkan bisnis perawatan kapal ke dalam entitas tersendiri atau anak usaha. Bila tidak ada aral melintang, Dawam menyebut bisnis perawatan kapal bisa dimulai pada paruh kedua tahun ini.

Untuk diketahui, bisnis utama JAI adalah penundaan dan pemanduan kapal di wilayah pelabuhan umum, terminal khusus, dan lepas pantai (ship to ship). Tahun lalu, bisnis penundaan dan pemanduan kapal menyumbang 96% terhadap total pendapatan JAI sebanyak Rp746,65 miliar. Adapun, usaha lain yang turut menyumbang pendapatan adalah segmen cargo shipping untuk perusahaan BUMN.

Dawam mengatakan, prospek bisnis perawatan kapal tetap menjanjikan kendati dipenuhi banyak pemain. Menurut Dawam, JAI akan fokus pada segmen kecil yang populasi kapalnya melimpah di samping menawarkan nilai tambah yang kompetitif bagi pelanggan. Sementara itu, untuk jenis kapal, Dawam mengaku tidak membatasi segmen tertentu.

Secara umum, jumlah kapal laut di Indonesia mencapai 25.435 unit pada 2017, terdiri dari 21.644 armada angkutan laut, 1.516 kapal pelayaran rakyat, 96 unit kapal perintis, dan 2.179 unit kapal laut khusus. Di luar itu, pada 2017 juga terdapat 380 unit kapal penyebrangan.

Sebelumnya, JAI juga menjajaki angkutan ekspor dengan menggandeng mitra pelayaran asing. Dawam mengatakan, para calon mitra yang sedang melakukan penjajakan kerja sama berasal dari China, Korea, dan Jepang. "Kami kan punya SIUPAL [Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut], makanya mereka nguber kita. Kalau terealisasi, ini akan menjadi bisnis baru kami," ujarnya.

Pelayaran asing menurut Dawam tertarik bekerja sama dengan perseroan untuk mengantisipasi dampak penerapan Permendag No.82 Tahun 2017. Beleid itu mewajibkan penggunaan kapal yang dikuasai pelayaran nasional untuk ekspor komoditas tertentu. Aturan itu telah direvisi yang mana pelaksanaannya ditunda hingga 2020 mendatang.

Tag : kapal
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top