REI Imbau Pengembang Tekan Margin

Asosiasi Pengusaha Real Estate Indonesia (REI) menyarankan kepada anggotanya agar melakukan prioritas menekan margin dalam menghadapi melemahnya kurs rupiah dan ancaman kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Anitana Widya Puspa | 12 Mei 2018 05:26 WIB
perumahan

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Pengusaha Real Estate Indonesia (REI) menyarankan kepada anggotanya agar melakukan prioritas menekan margin dalam menghadapi melemahnya kurs rupiah dan ancaman kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Ketua Umum REI Soelaeman Soemawinata mengatakan dengan kondisi pelemahan kurs dan kenaikan suku bunga, industri properti di segmen menengah atas akan berada dalam situasi yang sulit menjual proyek karena lazimnya banyak menggunakan konten impor.

Selain itu kekhawatiran lainnya adalah industri properti harus berjuang melawan subsitusi lainnya yakni sektor keuangan. Pasalnya kedua kondisi itu akan membuat masyarakat semakin enggan membelanjakan uangnya untuk properti dan cenderung memilih menahan uangnya di sektor perbankan. Padahal kata dia jumlah uang yang dihimpun dari perbankan ,menurut OJK telah mencapai Rp1.400 triliun.

Dengan kondisi itu dia tetap mendorong pengembang untuk melanjutkan proyek dengan pameran dan berbagai promosi menarik masyarakat serta mengurangi margin yang masih bisa ditahan.

“Kalau dulu substitusi hanya sesama sektor misal antara apartemen dengan rumah tapak. Tapi kini sektor riil harus bertarung pasar lain di sektor keuangan. Kami pun terus memberikan semangat kepada pengembang untuk memproduksi dengan margin yang masih bisa dilakukan,”katanya dikutip Jumat (11/5).

Eman menjelaskan lazimnya ada tiga unsur margin pengembang. Pertama kata dia terkait ekskalasi atau biaya overhead, seperti belanja pegawai. Kemudian lanjutnya, margin untuk reinvestasi, seperti keperluan membeli lahan baru.

Selain itu imbuh dia ada margin pengaman, sehinga apabila produknya tidak terjual tetapi pengembang tetap harus membayar bunga konstruksi. Terutama kata dia karena proyek properti merupakan proyek pre-financing yang dibayar sebelum proyek jadi. Sehingga proyek harus terus berjalan karena menjadi tanggung jawab kepada konsumen.

Dia pun menekankan saat ini agar pengembang harus memprioritaskan margin untuk membayar biaya konstruksi dan menekan margin lainnya.

Tag : properti
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top